Kisah Tukang Tambal Ban yang Dijanjikan Bisa Jadi Polisi, Tetapi Menjadi Korban Tipuan!
Seorang tukang tambal ban di Bekasi bernama Josman Sinaga, 55 tahun, mengaku kehilangan uang Rp1,1 miliar usai dirinya ditipu oleh seorang yang menjanjikan anaknya bisa menjadi anggota Polri melalui jalur Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS).
Josman bercerita, kejadian itu dialami usai putranya, Aryan Parasi Sinaga, 26 tahun, yang selalu gagal dalam seleksi baik seleksi TNI atau Polri. Ia tukang tambal ban, tapi demi anak, jantung pun rela dijual.
Josman mengaku diperkenalkan dengan terlapor oleh seorang anggota polisi aktif pada tahun 2024. Terlapor lalu memberi informasi bahwa ia bisa memasukkan anak menjadi anggota Polri melalui jalur SPISS. Orang tersebut bahkan mengaku memiliki relasi dengan seorang jenderal dan tokoh agama nasional.
Josman yang merasa mendapat kesempatan untuk masa depan anaknya, memutuskan membayar ke terlapor. Total uang yang ia berikan mencapai Rp 1,1 miliar. Namun, setelah itu, kejelasan soal pendaftaran itu tidak kunjung diterima Josman.
Ia bahkan mencoba untuk menghubungi terlapor, namun tidak ia mendapat jawaban. Nomor telepon Josman bahkan diblokir oleh terlapor dan ia akhirnya memutuskan untuk melapor polisi di tahun 2024.
Kini, laporan Josman telah diterima dan akan ditinggalkan oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi Kota. "Perkembangannya akan disampaikan kepada pihak terkait," ujar Ajun Komisaris Besar Braiel Arnold Rondonuwu.
Kisah ini menegaskan betapa pentingnya kita untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam menghadapi tipuan. Kita tidak boleh ragu-ragu untuk melapor polisi jika merasa telah menjadi korban tipuan seperti Josman Sinaga.
Seorang tukang tambal ban di Bekasi bernama Josman Sinaga, 55 tahun, mengaku kehilangan uang Rp1,1 miliar usai dirinya ditipu oleh seorang yang menjanjikan anaknya bisa menjadi anggota Polri melalui jalur Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS).
Josman bercerita, kejadian itu dialami usai putranya, Aryan Parasi Sinaga, 26 tahun, yang selalu gagal dalam seleksi baik seleksi TNI atau Polri. Ia tukang tambal ban, tapi demi anak, jantung pun rela dijual.
Josman mengaku diperkenalkan dengan terlapor oleh seorang anggota polisi aktif pada tahun 2024. Terlapor lalu memberi informasi bahwa ia bisa memasukkan anak menjadi anggota Polri melalui jalur SPISS. Orang tersebut bahkan mengaku memiliki relasi dengan seorang jenderal dan tokoh agama nasional.
Josman yang merasa mendapat kesempatan untuk masa depan anaknya, memutuskan membayar ke terlapor. Total uang yang ia berikan mencapai Rp 1,1 miliar. Namun, setelah itu, kejelasan soal pendaftaran itu tidak kunjung diterima Josman.
Ia bahkan mencoba untuk menghubungi terlapor, namun tidak ia mendapat jawaban. Nomor telepon Josman bahkan diblokir oleh terlapor dan ia akhirnya memutuskan untuk melapor polisi di tahun 2024.
Kini, laporan Josman telah diterima dan akan ditinggalkan oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi Kota. "Perkembangannya akan disampaikan kepada pihak terkait," ujar Ajun Komisaris Besar Braiel Arnold Rondonuwu.
Kisah ini menegaskan betapa pentingnya kita untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam menghadapi tipuan. Kita tidak boleh ragu-ragu untuk melapor polisi jika merasa telah menjadi korban tipuan seperti Josman Sinaga.