Trump Mendorong Warganya di Kuba untuk Bersiap Menghadapi Konflik, Siap-Siap Ada Petaka!
Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meminta warganya yang berada di Kuba untuk bersiap menghadapi konflik dan kemungkinan terjadinya petaka. Kedutaan Besar AS di Havana menulis surat peringatan kepada warga negara AS di Kuba, disampaikan dalam bahasa Inggris.
Peringatan ini dilakukan di tengah memburuknya kondisi energi dan ekonomi di Kuba. Penyebab utama kemacetan ini adalah karena Amerika Serikat melakukan blokir pengiriman minyak ke Kuba, termasuk dari sekutunya Venezuela. Blokiran ini berdampak langsung pada melonjaknya harga pangan dan transportasi, serta memperparah kelangkaan bahan bakar yang memicu pemadaman listrik luas di seluruh negeri.
Saat ini, Kuba mengalami krisis energi dan ekonomi yang parah. Jaringan listrik nasional semakin tidak stabil, dengan pemadaman listrik yang berlangsung berjam-jam dan terjadi hampir setiap hari akibat krisis pasokan energi dan bahan bakar.
Trump, yang sebelumnya menyatakan akan bertindak lebih keras terhadap Kuba dan menekan kepemimpinannya, juga mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Trump bahkan menyebut "Kuba akan segera gagal" seraya menuding Venezuela.
Namun, tidak semua orang setuju dengan pendekatan ini. Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro merupakan pelanggaran hukum internasional. Sejumlah pakar HAM menilai fokus Trump pada eksploitasi minyak Venezuela mencerminkan pendekatan yang bersifat imperialis.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Kuba mengatakan bahwa komunikasi antara Havana dan Washington masih berlangsung. Namun, ia menegaskan bahwa pertukaran tersebut belum berkembang menjadi dialog formal antara kedua negara.
Dengan demikian, warganya di Kuba harus siap-siap menghadapi kemungkinan terjadinya konflik dan petaka. Mereka harus hemat bahan bakar, air, makanan, dan daya baterai ponsel serta bersiap untuk gangguan yang signifikan.
Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meminta warganya yang berada di Kuba untuk bersiap menghadapi konflik dan kemungkinan terjadinya petaka. Kedutaan Besar AS di Havana menulis surat peringatan kepada warga negara AS di Kuba, disampaikan dalam bahasa Inggris.
Peringatan ini dilakukan di tengah memburuknya kondisi energi dan ekonomi di Kuba. Penyebab utama kemacetan ini adalah karena Amerika Serikat melakukan blokir pengiriman minyak ke Kuba, termasuk dari sekutunya Venezuela. Blokiran ini berdampak langsung pada melonjaknya harga pangan dan transportasi, serta memperparah kelangkaan bahan bakar yang memicu pemadaman listrik luas di seluruh negeri.
Saat ini, Kuba mengalami krisis energi dan ekonomi yang parah. Jaringan listrik nasional semakin tidak stabil, dengan pemadaman listrik yang berlangsung berjam-jam dan terjadi hampir setiap hari akibat krisis pasokan energi dan bahan bakar.
Trump, yang sebelumnya menyatakan akan bertindak lebih keras terhadap Kuba dan menekan kepemimpinannya, juga mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Trump bahkan menyebut "Kuba akan segera gagal" seraya menuding Venezuela.
Namun, tidak semua orang setuju dengan pendekatan ini. Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro merupakan pelanggaran hukum internasional. Sejumlah pakar HAM menilai fokus Trump pada eksploitasi minyak Venezuela mencerminkan pendekatan yang bersifat imperialis.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Kuba mengatakan bahwa komunikasi antara Havana dan Washington masih berlangsung. Namun, ia menegaskan bahwa pertukaran tersebut belum berkembang menjadi dialog formal antara kedua negara.
Dengan demikian, warganya di Kuba harus siap-siap menghadapi kemungkinan terjadinya konflik dan petaka. Mereka harus hemat bahan bakar, air, makanan, dan daya baterai ponsel serta bersiap untuk gangguan yang signifikan.