Pemakzulan Iran Jadi Fokus 'Dewa Perang' Trump dan Sanggahannya
Ternyata, pertemuan yang dijamu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan pejabat tinggi pertahanan dan intelijen dari Israel serta Arab Saudi, ternyata memiliki fokus utama yang sama: menghadapi ancaman Iran.
Menurut beberapa sumber yang mengetahui masalah ini, langkah diplomasi militer tersebut dilakukan di tengah eskalasi ketegangan yang meningkat seiring dengan penumpukan kekuatan militer AS di Timur Tengah. Trump sendiri telah mendesak Iran untuk segera duduk di meja perundingan guna menyepakati perjanjian senjata nuklir, atau menghadapi konsekuensi serangan dari Amerika Serikat.
Pertemuan tersebut juga melibatkan Kepala Intelijen Militer Israel Jenderal Shlomi Binder, yang melakukan pembicaraan intensif mengenai Iran dengan pejabat senior di Pentagon, CIA, dan Gedung Putih. Binder disebut telah membagikan data intelijen mengenai target-target potensial di wilayah Iran.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman juga berada di Washington untuk bertemu dengan jajaran pejabat AS, fokus utama pembicaranya tetap berfokus pada ancaman Iran. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, juga menyatakan sikap tegas negaranya dalam menghindari konflik terbuka.
Dengan demikian, terlihat bahwa pertemuan tersebut adalah langkah diplomasi militer yang diambil oleh AS untuk menghadapi ancaman Iran. Namun, apakah Trump akan memutuskan untuk menempuh jalur militer atau tidak? Hingga kini, belum ada keputusan final yang diberikan oleh sang presiden.
Sementara itu, pejabat Israel dan Arab tetap memberikan catatan kritis terhadap rencana tersebut, menyatakan bahwa "kekuatan udara saja tidak akan mampu menumbangkan para penguasa ulama di Iran".
Ternyata, pertemuan yang dijamu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan pejabat tinggi pertahanan dan intelijen dari Israel serta Arab Saudi, ternyata memiliki fokus utama yang sama: menghadapi ancaman Iran.
Menurut beberapa sumber yang mengetahui masalah ini, langkah diplomasi militer tersebut dilakukan di tengah eskalasi ketegangan yang meningkat seiring dengan penumpukan kekuatan militer AS di Timur Tengah. Trump sendiri telah mendesak Iran untuk segera duduk di meja perundingan guna menyepakati perjanjian senjata nuklir, atau menghadapi konsekuensi serangan dari Amerika Serikat.
Pertemuan tersebut juga melibatkan Kepala Intelijen Militer Israel Jenderal Shlomi Binder, yang melakukan pembicaraan intensif mengenai Iran dengan pejabat senior di Pentagon, CIA, dan Gedung Putih. Binder disebut telah membagikan data intelijen mengenai target-target potensial di wilayah Iran.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman juga berada di Washington untuk bertemu dengan jajaran pejabat AS, fokus utama pembicaranya tetap berfokus pada ancaman Iran. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, juga menyatakan sikap tegas negaranya dalam menghindari konflik terbuka.
Dengan demikian, terlihat bahwa pertemuan tersebut adalah langkah diplomasi militer yang diambil oleh AS untuk menghadapi ancaman Iran. Namun, apakah Trump akan memutuskan untuk menempuh jalur militer atau tidak? Hingga kini, belum ada keputusan final yang diberikan oleh sang presiden.
Sementara itu, pejabat Israel dan Arab tetap memberikan catatan kritis terhadap rencana tersebut, menyatakan bahwa "kekuatan udara saja tidak akan mampu menumbangkan para penguasa ulama di Iran".