Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menancam akan mengizinkan perusahaan-perusahaan minyak AS untuk masuk ke Venezuela dan mengelola cadangan minyak mentah raksasa negara tersebut. Rencana ini menyusul operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Menurut Trump, perusahaan-perusahaan energi terbesar Amerika akan menanamkan investasi miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur migas Venezuela yang selama ini terbengkalai. Namun, dia tetap menegaskan bahwa embargo terhadap seluruh minyak Venezuela tetap diberlakukan.
Operasi militer AS melancarkan serangkaian serangan udara ke ibu kota Caracas, di mana Maduro dan istrinya ditangkap dan diterbangkan ke New York. Sebelumnya, Washington telah menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Venezuela sejak 2017, disusul sanksi sektor minyak dua tahun kemudian.
Produksi minyak Venezuela hanya sekitar kurang dari 1 juta barel per hari, menurut data OPEC. Trump menuduh pemerintah Venezuela menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai kejahatan lintas negara. Dia mengklaim Caracas menggunakan uang minyak untuk membiayai terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan.
AS juga menerapkan blokade total terhadap kapal tanker yang masuk dan keluar dari Venezuela sebagai bagian dari tekanan ekonomi. Namun, analis energi Stephen Schork dari Schork Group menyatakan bahwa ketergantungan energi AS terhadap Venezuela saat ini relatif kecil.
Menurut data International Energy Agency (IEA) 2023, Venezuela memiliki sekitar 17% cadangan minyak dunia. Namun produksinya merosot tajam akibat bertahun-tahun salah kelola dan korupsi.
Menurut Trump, perusahaan-perusahaan energi terbesar Amerika akan menanamkan investasi miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur migas Venezuela yang selama ini terbengkalai. Namun, dia tetap menegaskan bahwa embargo terhadap seluruh minyak Venezuela tetap diberlakukan.
Operasi militer AS melancarkan serangkaian serangan udara ke ibu kota Caracas, di mana Maduro dan istrinya ditangkap dan diterbangkan ke New York. Sebelumnya, Washington telah menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Venezuela sejak 2017, disusul sanksi sektor minyak dua tahun kemudian.
Produksi minyak Venezuela hanya sekitar kurang dari 1 juta barel per hari, menurut data OPEC. Trump menuduh pemerintah Venezuela menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai kejahatan lintas negara. Dia mengklaim Caracas menggunakan uang minyak untuk membiayai terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan.
AS juga menerapkan blokade total terhadap kapal tanker yang masuk dan keluar dari Venezuela sebagai bagian dari tekanan ekonomi. Namun, analis energi Stephen Schork dari Schork Group menyatakan bahwa ketergantungan energi AS terhadap Venezuela saat ini relatif kecil.
Menurut data International Energy Agency (IEA) 2023, Venezuela memiliki sekitar 17% cadangan minyak dunia. Namun produksinya merosot tajam akibat bertahun-tahun salah kelola dan korupsi.