Harga Emas dan Perak Tahun Ini Bakal Membuat Kamu Kaya Sejak US$5.000 Sampai US$100!
Negara-negara besar saat ini berlomba-lomba mengamankan kendali atas sumber daya strategis, menyebabkan harga emas dan perak dunia kembali mencetak rekor dan berpeluang naik lebih tinggi tahun ini. Investora global melihat peluang harga emas bisa menembus US$5.000 per ounce dan perak melampaui US$100.
Pada awal pekan ini, harga emas menyentuh rekor baru di atas US$4.600 per ounce yang dipicu kabar bahwa Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell tengah berada dalam penyelidikan pidana terkait renovasi kantor pusat The Fed senilai US$2,5 miliar. Hingga Rabu pagi waktu setempat, emas spot kembali menguat ke US$4.633,46 per ounce.
Sementara itu, perak spot menembus level psikologis US$90 per ounce, diperdagangkan di sekitar US$90,42, naik 3,5%. Di balik lonjakan ini, investor melihat satu faktor utama yang semakin dominan yaitu nasionalisme sumber daya alam (resource nationalism).
"Ketika Presiden Trump mulai menaikkan tarif, China membalas dengan membatasi ekspor mineral tanah jarang. Itu bukan sekadar perang dagang, tapi perang nasionalisme sumber daya," ujarnya partner investment strategy di Evelyn Partners, Daniel Casali.
China membatasi ekspor rare earth yang krusial bagi pertahanan, teknologi, hingga kecerdasan buatan (AI). Tak lama kemudian, pembatasan ekspor juga menyasar perak, komoditas vital untuk AI, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga industri manufaktur global.
"Perak sekarang sama pentingnya dengan chip. Tanpa perak, tidak ada AI, tidak ada EV, tidak ada teknologi," kata Casali.
Ketegangan geopolitik juga semakin memanas setelah AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan munculnya wacana militer untuk menguasai Greenland. AS bahkan mulai membatasi akses China terhadap minyak Venezuela, salah satu sumber energi utama Beijing.
"Semua ini adalah bidak catur geopolitik. Dan pesan kuncinya: nasionalisme sumber daya bisa mendorong harga emas dan perak jauh lebih tinggi," tegas Casali.
Investment Manager Jupiter Asset Management, Ned Naylor-Leyland, menyebut skenario emas US$5.000 dan perak US$100 sebagai sesuatu yang sangat mungkin terjadi tahun ini.
"Dengan kondisi fundamental saat ini, investor seharusnya menganggap itu akan terjadi," katanya.
Sepanjang 2025, harga emas sudah melonjak 65%, sementara perak meroket 150%. Memasuki 2026, emas telah naik 7,1% dan perak melonjak 26,6% hanya dalam hitungan minggu.
Negara-negara besar saat ini berlomba-lomba mengamankan kendali atas sumber daya strategis, menyebabkan harga emas dan perak dunia kembali mencetak rekor dan berpeluang naik lebih tinggi tahun ini. Investora global melihat peluang harga emas bisa menembus US$5.000 per ounce dan perak melampaui US$100.
Pada awal pekan ini, harga emas menyentuh rekor baru di atas US$4.600 per ounce yang dipicu kabar bahwa Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell tengah berada dalam penyelidikan pidana terkait renovasi kantor pusat The Fed senilai US$2,5 miliar. Hingga Rabu pagi waktu setempat, emas spot kembali menguat ke US$4.633,46 per ounce.
Sementara itu, perak spot menembus level psikologis US$90 per ounce, diperdagangkan di sekitar US$90,42, naik 3,5%. Di balik lonjakan ini, investor melihat satu faktor utama yang semakin dominan yaitu nasionalisme sumber daya alam (resource nationalism).
"Ketika Presiden Trump mulai menaikkan tarif, China membalas dengan membatasi ekspor mineral tanah jarang. Itu bukan sekadar perang dagang, tapi perang nasionalisme sumber daya," ujarnya partner investment strategy di Evelyn Partners, Daniel Casali.
China membatasi ekspor rare earth yang krusial bagi pertahanan, teknologi, hingga kecerdasan buatan (AI). Tak lama kemudian, pembatasan ekspor juga menyasar perak, komoditas vital untuk AI, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga industri manufaktur global.
"Perak sekarang sama pentingnya dengan chip. Tanpa perak, tidak ada AI, tidak ada EV, tidak ada teknologi," kata Casali.
Ketegangan geopolitik juga semakin memanas setelah AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan munculnya wacana militer untuk menguasai Greenland. AS bahkan mulai membatasi akses China terhadap minyak Venezuela, salah satu sumber energi utama Beijing.
"Semua ini adalah bidak catur geopolitik. Dan pesan kuncinya: nasionalisme sumber daya bisa mendorong harga emas dan perak jauh lebih tinggi," tegas Casali.
Investment Manager Jupiter Asset Management, Ned Naylor-Leyland, menyebut skenario emas US$5.000 dan perak US$100 sebagai sesuatu yang sangat mungkin terjadi tahun ini.
"Dengan kondisi fundamental saat ini, investor seharusnya menganggap itu akan terjadi," katanya.
Sepanjang 2025, harga emas sudah melonjak 65%, sementara perak meroket 150%. Memasuki 2026, emas telah naik 7,1% dan perak melonjak 26,6% hanya dalam hitungan minggu.