Bencana Tanah Longsor di Cisarua: Apa Yang Tersembunyi?
Kemarin, 24 Januari 2026, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat diterkai sebagai salah satu daerah terdampak bencana tanah longsor yang parah. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan selama empat hari berturut-turut menyebabkan curah hujan rata-rata 68 milimeter per hari yang tidak terlalu besar dibanding dengan kejadian bencana lainnya. Namun, menurut Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq, ada kerapuhan pada struktur tutupan lahan di wilayah Bandung Barat yang perlu segera diperbaiki.
Hanif menyatakan bahwa penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia akan melibatkan para ahli untuk mengkaji penyebab utama longsor ini, serta merumuskan langkah tindak lanjut yang berkaitan dengan tata ruang agar kejadian serupa tidak terulang. Menurutnya, perubahan fungsi lahan dan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan menjadi faktor kunci meningkatnya risiko bencana, meski curah hujan tidak berada pada kategori ekstrem.
Tergantung dari analisis penyebab longsor ini, Hanif menyatakan bahwa penataan ruang berkelanjutan dan pemulihan vegetasi pada lereng-lereng kritis menjadi solusi jangka panjang yang tidak bisa ditawar lagi. Oleh karena itu, perlu ada kehati-hatian dalam mengelola lahan agar kejadian seperti ini tidak terjadi kembali di masa depan.
Tentu saja ini adalah kejadian yang tidak akan pernah terlupakan bagi warga Cisarua. Bencana tanah longsor ini sudah menjadi topik utama di berbagai sudut dunia, dan pemerintah harus segera mengambil tindakan untuk mencegah hal seperti ini kembali terjadi.
Kemarin, 24 Januari 2026, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat diterkai sebagai salah satu daerah terdampak bencana tanah longsor yang parah. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan selama empat hari berturut-turut menyebabkan curah hujan rata-rata 68 milimeter per hari yang tidak terlalu besar dibanding dengan kejadian bencana lainnya. Namun, menurut Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq, ada kerapuhan pada struktur tutupan lahan di wilayah Bandung Barat yang perlu segera diperbaiki.
Hanif menyatakan bahwa penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia akan melibatkan para ahli untuk mengkaji penyebab utama longsor ini, serta merumuskan langkah tindak lanjut yang berkaitan dengan tata ruang agar kejadian serupa tidak terulang. Menurutnya, perubahan fungsi lahan dan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan menjadi faktor kunci meningkatnya risiko bencana, meski curah hujan tidak berada pada kategori ekstrem.
Tergantung dari analisis penyebab longsor ini, Hanif menyatakan bahwa penataan ruang berkelanjutan dan pemulihan vegetasi pada lereng-lereng kritis menjadi solusi jangka panjang yang tidak bisa ditawar lagi. Oleh karena itu, perlu ada kehati-hatian dalam mengelola lahan agar kejadian seperti ini tidak terjadi kembali di masa depan.
Tentu saja ini adalah kejadian yang tidak akan pernah terlupakan bagi warga Cisarua. Bencana tanah longsor ini sudah menjadi topik utama di berbagai sudut dunia, dan pemerintah harus segera mengambil tindakan untuk mencegah hal seperti ini kembali terjadi.