Isra Mikraj yang jatuh pada hari Jum'at (16/1) ini menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk memperingati peristiwa penting dalam sejarah agama Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW melakukan dua perjalanan yang dikenal sebagai Isra Mikraj. Perayaan ini identik dengan tradisi unik di setiap wilayah di Indonesia.
Di Cirebon, tradisi Rajaban berkembang sebagai kegiatan keagamaan untuk merayakan Isra Mikraj. Acara ini dimulai dengan ceramah dari para ulama dan berakhir dengan kegiatan keagamaan lainnya.
Sementara itu, di Bandung, pawai obor menjadi tradisi yang ikonik dalam perayaan Isra Mikraj. Pawai ini dilakukan sambil menyalakan obor dan melakukan pawai melewati beberapa rute tertentu dengan menyerukan yel-yel untuk saling menyemangati.
Di Temanggung, Jawa Tengah, penduduk melakukan tradisi Khataman Kitab Arjo. Acara ini dimulai dengan tahlil malam dan diikuti pembacaan kitab karya KH Ahmad Rifai al-Jawi yang menceritakan kisah Isra Mikraj dalam bahasa Jawa dan aksara Arab Pegon.
Di Bangka Belitung, tradisi Nganggung melibatkan warga membawa makanan dari rumah ke masjid atau balai desa dalam konsep "Sepintu Sedulang" untuk makan bersama. Acara ini diisi dengan ceramah, doa, dan dzikir sebagai bentuk syukur pada hari besar Islam.
Di Lombok, tradisi Ngusiran dilaksanakan dengan "ngurisan" atau cukur rambut bayi yang baru lahir atau berumur di bawah 6 bulan. Tokoh agama dan masyarakat yang diundang harus mencukur atau memegang kepala bayi tersebut.
Di Yogyakarta, Kraton Yogyakarta mengadakan Hajad Dalem Yasa Peksi Burak dengan mengarak replika Burak dari kulit jeruk bali ke Masjid Gede Kauman. Tradisi abdi dalem ini menghormati kendaraan Nabi dalam Isra Mikraj secara simbolis.
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tradisi Nyadran dan Ambengan dilaksanakan dengan membersihkan makam leluhur, doa bersama, dan pengajian di masjid. Kedua tradisi ini menggabungkan penghormatan leluhur dengan semangat kebersamaan pada peringatan Isra Mikraj.
Sementara itu, di Jawa Timur, tradisi Ambengan dilaksanakan untuk memperingati peristiwa Isra Mikraj. Setiap tahun, muslim di berbagai daerah melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas peristiwa besar tersebut.
Perayaan Isra Mikraj menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk menghormati leluhur, meningkatkan ketakwaan, dan mempererat silaturahmi. Dengan demikian, tradisi-tradisi unik ini menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia yang kaya nilai kearifan lokal.
Di Cirebon, tradisi Rajaban berkembang sebagai kegiatan keagamaan untuk merayakan Isra Mikraj. Acara ini dimulai dengan ceramah dari para ulama dan berakhir dengan kegiatan keagamaan lainnya.
Sementara itu, di Bandung, pawai obor menjadi tradisi yang ikonik dalam perayaan Isra Mikraj. Pawai ini dilakukan sambil menyalakan obor dan melakukan pawai melewati beberapa rute tertentu dengan menyerukan yel-yel untuk saling menyemangati.
Di Temanggung, Jawa Tengah, penduduk melakukan tradisi Khataman Kitab Arjo. Acara ini dimulai dengan tahlil malam dan diikuti pembacaan kitab karya KH Ahmad Rifai al-Jawi yang menceritakan kisah Isra Mikraj dalam bahasa Jawa dan aksara Arab Pegon.
Di Bangka Belitung, tradisi Nganggung melibatkan warga membawa makanan dari rumah ke masjid atau balai desa dalam konsep "Sepintu Sedulang" untuk makan bersama. Acara ini diisi dengan ceramah, doa, dan dzikir sebagai bentuk syukur pada hari besar Islam.
Di Lombok, tradisi Ngusiran dilaksanakan dengan "ngurisan" atau cukur rambut bayi yang baru lahir atau berumur di bawah 6 bulan. Tokoh agama dan masyarakat yang diundang harus mencukur atau memegang kepala bayi tersebut.
Di Yogyakarta, Kraton Yogyakarta mengadakan Hajad Dalem Yasa Peksi Burak dengan mengarak replika Burak dari kulit jeruk bali ke Masjid Gede Kauman. Tradisi abdi dalem ini menghormati kendaraan Nabi dalam Isra Mikraj secara simbolis.
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tradisi Nyadran dan Ambengan dilaksanakan dengan membersihkan makam leluhur, doa bersama, dan pengajian di masjid. Kedua tradisi ini menggabungkan penghormatan leluhur dengan semangat kebersamaan pada peringatan Isra Mikraj.
Sementara itu, di Jawa Timur, tradisi Ambengan dilaksanakan untuk memperingati peristiwa Isra Mikraj. Setiap tahun, muslim di berbagai daerah melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas peristiwa besar tersebut.
Perayaan Isra Mikraj menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk menghormati leluhur, meningkatkan ketakwaan, dan mempererat silaturahmi. Dengan demikian, tradisi-tradisi unik ini menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia yang kaya nilai kearifan lokal.