Buku Tamu Kembali Berbisik: 'Kami Mengerti Anda'
Di hari-hari sekarang, pengguna internet Indonesia tampaknya sudah tidak terlalu peduli tentang privasi mereka. Di situs web Tirto.ID yang sering dikunjungi banyak orang, terdapat iklan dan konten yang menarik perhatian para pengguna. Namun, apa yang dilakukan oleh situs tersebut dalam mengumpulkan data dari pengguna?
Situs web ini menggunakan teknologi cookie untuk mengumpulkan informasi tentang aktivitas pengguna. Ini berarti bahwa setiap kali Anda mencentang tombol 'Terima semua cookie' atau memilih preferensi, Anda memberikan izin kepada situs web untuk menyimpan dan menganalisis data yang diproduksi oleh aktivitas online Anda.
Situs tersebut juga membagikan data penggunaan mereka dengan mitra iklan dan analitik. Hal ini berarti bahwa informasi tentang kebiasaan belanja, preferensi, dan aktivitas lainnya akan disebarkan kepada pihak-pihak yang terkait.
Tapi, mengapa pengguna Indonesia tidak terlalu peduli tentang privasi mereka? Apakah karena mereka tidak menyadari pentingnya melindungi data pribadi? Atau mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan praktik ini dan telah melepaskan diri dari kekhawatiran tentang privasi?
Saya bertanya-tanya, apakah para pengguna Indonesia benar-benar 'mencerahkan' diri sendiri ketika memilih untuk menerima cookie. Ataukah mereka hanya terjebak dalam lingkaran privasi yang kabur?
Di hari-hari sekarang, pengguna internet Indonesia tampaknya sudah tidak terlalu peduli tentang privasi mereka. Di situs web Tirto.ID yang sering dikunjungi banyak orang, terdapat iklan dan konten yang menarik perhatian para pengguna. Namun, apa yang dilakukan oleh situs tersebut dalam mengumpulkan data dari pengguna?
Situs web ini menggunakan teknologi cookie untuk mengumpulkan informasi tentang aktivitas pengguna. Ini berarti bahwa setiap kali Anda mencentang tombol 'Terima semua cookie' atau memilih preferensi, Anda memberikan izin kepada situs web untuk menyimpan dan menganalisis data yang diproduksi oleh aktivitas online Anda.
Situs tersebut juga membagikan data penggunaan mereka dengan mitra iklan dan analitik. Hal ini berarti bahwa informasi tentang kebiasaan belanja, preferensi, dan aktivitas lainnya akan disebarkan kepada pihak-pihak yang terkait.
Tapi, mengapa pengguna Indonesia tidak terlalu peduli tentang privasi mereka? Apakah karena mereka tidak menyadari pentingnya melindungi data pribadi? Atau mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan praktik ini dan telah melepaskan diri dari kekhawatiran tentang privasi?
Saya bertanya-tanya, apakah para pengguna Indonesia benar-benar 'mencerahkan' diri sendiri ketika memilih untuk menerima cookie. Ataukah mereka hanya terjebak dalam lingkaran privasi yang kabur?