Konflik di Yaman telah memanas kembali setelah serangan udara dari Arab Saudi. Serangan ini menargetkan wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok Southern Transitional Council (STC) di Provinsi Hadramaut, yang berbatasan dengan Arab Saudi. Tujuh orang tewas dan lebih dari 20 terluka dalam serangan tersebut, menyebutkan pemimpin STC, Mohammed Abdulmalik.
Arab Saudi juga menyerang Pelabuhan Mukalla, diduga menjadi jalur masuk pasokan senjata ke Yaman. Kelompok ini menuding UEA mengirim senjata untuk kelompok separatis di Yaman.
Konflik di Yaman telah berlangsung selama bertahun-tahun, mulai dari gelombang Arab Spring pada 2011 yang memicu demonstrasi menentang Presiden Ali Abdullah Saleh. Ia mundur pada 2012 dan digantikan Abd Rabbuh Mansur Hadi.
Pada 2014, kelompok pemberontak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan Pemerintahan Hadi kehilangan kendali atas wilayah utara Yaman. Setahun kemudian, Houthi membubarkan parlemen dan bentuk pemerintahan transisi.
Pada Maret 2015, Hadi berhasil melarikan diri ke Aden (selatan Yaman) dan meminta intervensi asing. Arab Saudi dan UEA memimpin koalisi mendukung Hadi dan berhasil menguasai Aden.
Namun, perang ini menyebabkan ribuan warga sipil tewas dan kelaparan massal. Pada 2018-2020, koalisi Arab pecah, dan kelompok separatis yang awalnya pro-Hadi mulai memberontak. Separatis merebut Aden dari pasukan pro-Hadi dan membentuk STC yang didukung UEA.
Pada 2022, pihak-pihak utama mengumumkan gencatan senjata. Beberapa hari kemudian, Hadi mengumumkan pengunduran diri, dan pemerintah Yaman dilanjutkan dengan pembentukan Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC). Pemerintahan ini didukung Saudi dan diakui internasional.
Namun, konflik di Yaman memanas kembali setelah serangan dari Arab Saudi. Kelompok ini menyerang Pelabuhan Mukalla yang diduga menjadi jalur masuk pasokan senjata ke STC yang didukung UEA.
Arab Saudi juga menyerang Pelabuhan Mukalla, diduga menjadi jalur masuk pasokan senjata ke Yaman. Kelompok ini menuding UEA mengirim senjata untuk kelompok separatis di Yaman.
Konflik di Yaman telah berlangsung selama bertahun-tahun, mulai dari gelombang Arab Spring pada 2011 yang memicu demonstrasi menentang Presiden Ali Abdullah Saleh. Ia mundur pada 2012 dan digantikan Abd Rabbuh Mansur Hadi.
Pada 2014, kelompok pemberontak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan Pemerintahan Hadi kehilangan kendali atas wilayah utara Yaman. Setahun kemudian, Houthi membubarkan parlemen dan bentuk pemerintahan transisi.
Pada Maret 2015, Hadi berhasil melarikan diri ke Aden (selatan Yaman) dan meminta intervensi asing. Arab Saudi dan UEA memimpin koalisi mendukung Hadi dan berhasil menguasai Aden.
Namun, perang ini menyebabkan ribuan warga sipil tewas dan kelaparan massal. Pada 2018-2020, koalisi Arab pecah, dan kelompok separatis yang awalnya pro-Hadi mulai memberontak. Separatis merebut Aden dari pasukan pro-Hadi dan membentuk STC yang didukung UEA.
Pada 2022, pihak-pihak utama mengumumkan gencatan senjata. Beberapa hari kemudian, Hadi mengumumkan pengunduran diri, dan pemerintah Yaman dilanjutkan dengan pembentukan Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC). Pemerintahan ini didukung Saudi dan diakui internasional.
Namun, konflik di Yaman memanas kembali setelah serangan dari Arab Saudi. Kelompok ini menyerang Pelabuhan Mukalla yang diduga menjadi jalur masuk pasokan senjata ke STC yang didukung UEA.