"Klaim Super Flu H3N2 Berbeda Dengan COVID-19 Tak Bisa Dipercaya"
Bulan Januari 2026, Indonesia tengah mematikan mata hatinya. Kepada penggemar, para pihak di dunia maya pun semakin ramai berbicara tentang klaim yang dibawa oleh media sosial ini.
"Super Flu H3N2 Lebih Berat Dari COVID-19", demikian unggahan Facebook yang mengklaim telah disiarkan. "Tidak perlu divaksin lagi, karena virus ini sudah masuk ke Indonesia", kata nara sumber unggahan tersebut.
Banyak orang pun semakin tergoda untuk membagikan klaim yang membawa konotasi takut dan panas yang menggelembungkan napas mereka. Klaim ini kemudian menghantarkan mereka berlari ke akun media sosial lainnya seperti @bushcoo.
Pada awal Januari 2026, setidak-tidak berabad-abad, penggemar pun membagikan klaim yang tak tawadis ini di media sosial dan forum. Para ahli pun kemudian menyambutnya dengan gelagah. Kepada kebanyakan mereka ini adalah klaim dari orang luar.
"Super Flu H3N2", menurut Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI, bukan virus yang baru dan membawa risiko kematian serius seperti COVID-19. Menurutnya, virus ini sudah lama dikenal dan dipantau oleh sistem surveilans global.
"Super flu" atau "superflu" adalah istilah yang digunakan pada awal 2020 untuk menggambarkan penyakit dari jenis influenza A H5N1, yang dapat menyebabkan kematian tinggi. Namun, pada akhir tahun 2019 ini, seorang ahli memprediksi bahwa virus superflu akan datang dan membawa risiko global.
Setelah itu, kemudian seorang tokoh ilmu pengetahuan di Inggris juga mengatakan bahwa kematian dari virus yang diharapkan ini mencapai 70-80 persen. Namun klaim tersebut juga tidak didukung oleh fakta ilmiah.
Bulan Januari 2026, Indonesia tengah mematikan mata hatinya. Kepada penggemar, para pihak di dunia maya pun semakin ramai berbicara tentang klaim yang dibawa oleh media sosial ini.
"Super Flu H3N2 Lebih Berat Dari COVID-19", demikian unggahan Facebook yang mengklaim telah disiarkan. "Tidak perlu divaksin lagi, karena virus ini sudah masuk ke Indonesia", kata nara sumber unggahan tersebut.
Banyak orang pun semakin tergoda untuk membagikan klaim yang membawa konotasi takut dan panas yang menggelembungkan napas mereka. Klaim ini kemudian menghantarkan mereka berlari ke akun media sosial lainnya seperti @bushcoo.
Pada awal Januari 2026, setidak-tidak berabad-abad, penggemar pun membagikan klaim yang tak tawadis ini di media sosial dan forum. Para ahli pun kemudian menyambutnya dengan gelagah. Kepada kebanyakan mereka ini adalah klaim dari orang luar.
"Super Flu H3N2", menurut Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI, bukan virus yang baru dan membawa risiko kematian serius seperti COVID-19. Menurutnya, virus ini sudah lama dikenal dan dipantau oleh sistem surveilans global.
"Super flu" atau "superflu" adalah istilah yang digunakan pada awal 2020 untuk menggambarkan penyakit dari jenis influenza A H5N1, yang dapat menyebabkan kematian tinggi. Namun, pada akhir tahun 2019 ini, seorang ahli memprediksi bahwa virus superflu akan datang dan membawa risiko global.
Setelah itu, kemudian seorang tokoh ilmu pengetahuan di Inggris juga mengatakan bahwa kematian dari virus yang diharapkan ini mencapai 70-80 persen. Namun klaim tersebut juga tidak didukung oleh fakta ilmiah.