Berasal dari unggahannya yang beredar foto tim SAR Penyelamatan Pesawat ATR 42-500 di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, foto tersebut menarik banyak perhatian masyarakat. Foto tersebut disertai narasi penemuan korban pertama di kawasan Puncak Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan pada 18 Januari 2026.
Namun, keaslian klaim tersebut menimbulkan keraguan karena foto beredar memang memiliki beberapa kesalahan visual. Misalnya, tulisan Basarnas di rompi petugas tampak salah eja dan terlihat jelas pada rompi petugas lain yang berada di posisi lebih dekat dengan kamera.
Selain itu, bentuk tubuh sosok-sosok dalam foto juga tampak buram dan menyatu dengan latar hutan. Terdapat pula ketidakwajaran pada bentuk kaki dan wajah serta tangan, ciri yang kerap ditemukan pada gambar hasil kecerdasan buatan atau AI.
Pemeriksaan lanjutan menggunakan pendeteksi gambar berbasis AI menunjukkan bahwa foto tersebut memiliki probabilitas sebagai gambar buatan AI sebesar 99,8 persen. Pengecekan tambahan dilakukan melalui Wasit AI dan mengonfirmasi kembali hasil analisis yang sama.
Dalam peristiwa kecelakaan ini, penyebaran informasi yang akurat dan terverifikasi menjadi sangat penting. Meskipun tidak selalu menimbulkan dampak langsung, beredarnya informasi keliru dapat mengaburkan fakta dan mengganggu kejernihan informasi di tengah situasi yang masih genting.
Dengan demikian, klaim yang menyebutkan foto tersebut sebagai dokumentasi penyelamatan pesawat ATR 42-500 dinyatakan tidak benar.
Namun, keaslian klaim tersebut menimbulkan keraguan karena foto beredar memang memiliki beberapa kesalahan visual. Misalnya, tulisan Basarnas di rompi petugas tampak salah eja dan terlihat jelas pada rompi petugas lain yang berada di posisi lebih dekat dengan kamera.
Selain itu, bentuk tubuh sosok-sosok dalam foto juga tampak buram dan menyatu dengan latar hutan. Terdapat pula ketidakwajaran pada bentuk kaki dan wajah serta tangan, ciri yang kerap ditemukan pada gambar hasil kecerdasan buatan atau AI.
Pemeriksaan lanjutan menggunakan pendeteksi gambar berbasis AI menunjukkan bahwa foto tersebut memiliki probabilitas sebagai gambar buatan AI sebesar 99,8 persen. Pengecekan tambahan dilakukan melalui Wasit AI dan mengonfirmasi kembali hasil analisis yang sama.
Dalam peristiwa kecelakaan ini, penyebaran informasi yang akurat dan terverifikasi menjadi sangat penting. Meskipun tidak selalu menimbulkan dampak langsung, beredarnya informasi keliru dapat mengaburkan fakta dan mengganggu kejernihan informasi di tengah situasi yang masih genting.
Dengan demikian, klaim yang menyebutkan foto tersebut sebagai dokumentasi penyelamatan pesawat ATR 42-500 dinyatakan tidak benar.