Foto yang diklaim sebagai penyelamatan pesawat ATR 42-500 sebenarnya merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan. Klaim ini dikonfirmasi oleh tim penelusuran fakta Tirto, yang menemukan sejumlah kejanggalan visual pada foto tersebut, termasuk kesalahan penulisan dan ketidakwajaran bentuk tubuh sosok di dalam gambar.
Foto yang beredar ini memiliki probabilitas sebagai gambar buatan AI sebesar 99,8 persen, menurut hasil analisis menggunakan pendeteksi gambar berbasis AI. Pemeriksaan lanjutan juga menghasilkan temuan serupa, dengan kemungkinan gambar asli atau bukan buatan AI hanya sekitar 2 persen.
Selain itu, foto yang diklaim sebagai dokumentasi penyelamatan pesawat ATR 42-500 tersebut tidak diberikan label atau tanda AI yang berpotensi menjadi informasi keliru. Namun demikian, beredarnya gambar buatan ini tanpa disertai keterangan yang menjelaskan bahwa gambar tersebut merupakan hasil kecerdasan buatan dapat menyebabkan kesalahpahaman dan menyebarluas informasi keliru di tengah masyarakat.
Pada hari yang sama, Tim SAR gabungan memang telah berhasil menemukan satu korban dari kecelakaan pesawat tersebut, yaitu korban dengan jenis kelamin laki-laki, ditemukan pada pukul 14.20 WITA, di koordinat 04ยฐ54' 44"S dan 119ยฐ 44' 48" S, di kedalaman jurang sekitar kurang lebih 200 meter.
Dalam pernyataannya yang disampaikan Basarnas melalui Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku Sar Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, korban tersebut ditemukan di koordinat tertentu, bukan di dinding tebing batu dengan kemiringan hampir tegak lurus, atau pada kemiringan 90 derajat, seperti narasi yang disampaikan pengunggah foto.
Dalam peristiwa kecelakaan ini, penyebaran informasi yang akurat dan terverifikasi menjadi sangat penting. Meskipun tidak selalu menimbulkan dampak langsung, beredarnya informasi keliru dapat mengaburkan fakta dan mengganggu kejernihan informasi di tengah situasi yang masih genting.
Foto yang beredar ini memiliki probabilitas sebagai gambar buatan AI sebesar 99,8 persen, menurut hasil analisis menggunakan pendeteksi gambar berbasis AI. Pemeriksaan lanjutan juga menghasilkan temuan serupa, dengan kemungkinan gambar asli atau bukan buatan AI hanya sekitar 2 persen.
Selain itu, foto yang diklaim sebagai dokumentasi penyelamatan pesawat ATR 42-500 tersebut tidak diberikan label atau tanda AI yang berpotensi menjadi informasi keliru. Namun demikian, beredarnya gambar buatan ini tanpa disertai keterangan yang menjelaskan bahwa gambar tersebut merupakan hasil kecerdasan buatan dapat menyebabkan kesalahpahaman dan menyebarluas informasi keliru di tengah masyarakat.
Pada hari yang sama, Tim SAR gabungan memang telah berhasil menemukan satu korban dari kecelakaan pesawat tersebut, yaitu korban dengan jenis kelamin laki-laki, ditemukan pada pukul 14.20 WITA, di koordinat 04ยฐ54' 44"S dan 119ยฐ 44' 48" S, di kedalaman jurang sekitar kurang lebih 200 meter.
Dalam pernyataannya yang disampaikan Basarnas melalui Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku Sar Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, korban tersebut ditemukan di koordinat tertentu, bukan di dinding tebing batu dengan kemiringan hampir tegak lurus, atau pada kemiringan 90 derajat, seperti narasi yang disampaikan pengunggah foto.
Dalam peristiwa kecelakaan ini, penyebaran informasi yang akurat dan terverifikasi menjadi sangat penting. Meskipun tidak selalu menimbulkan dampak langsung, beredarnya informasi keliru dapat mengaburkan fakta dan mengganggu kejernihan informasi di tengah situasi yang masih genting.