Harga minyak dunia tiba-tiba mendidih lagi, apa yang menyebabkan hal ini? Sebelumnya beberapa bulan lalu harga minyak mentah dunia terus menurun. Namun, pada pekan ketiga Januari 2026, kisah berubah.
Harga minyak mentah acuan Amerika Serikat WTI (West Texas Intermediate) naik 2,88% dari hari sebelumnya dan menjadi US$61,07 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah acuan Brent juga menguat 2,84% secara harian dan melejit 2,73% secara mingguan.
Sentimen geopolitik di Venezuela menjadi faktor utama yang membuat harga minyak dunia naik. Kilang minyak Valero Energy membeli kargo minyak mentah Venezuela dari Vitol, menandai transaksi pertama oleh kilang Pantai Teluk AS sebagai bagian dari kesepakatan Washington-Caracas untuk membeli hingga 50 juta barel minyak Venezuela. Harga minyak Venezuela tersebut diperdagangkan dengan diskon sekitar US$8,5-US$9,5 per barel terhadap Brent.
Namun, perlu diingat bahwa kembalinya aliran ini berpotensi menambah pasokan di pasar, namun dalam jangka pendek dipandang sebagai faktor stabilisasi bagi rantai pasok global. Selain itu, sentimen geopolitik di Greenland juga menjadi pemicu harga minyak ikut terungkit. Langkah Presiden AS Donald Trump yang menarik kembali ancaman tarif terkait sengketa Greenland membuat pasar sebagai kabar baik bagi pertumbuhan ekonomi global dan konsumsi energi.
Sementara itu, International Energy Agency (IEA) memberikan sentimen positif dengan merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 menjadi 930.000 barel per hari, dari sebelumnya 860.000 bpd. Namun, revisi tersebut belum cukup untuk menghapus bayang-bayang surplus. Pasokan global masih diperkirakan melebihi permintaan sekitar 3,69 juta barel per hari tahun ini.
Di sisi lain, data persediaan minyak AS masih menjadi penahan laju harga minyak. American Petroleum Institute (API) mencatat kenaikan stok minyak mentah sebesar 3,04 juta barel pekan lalu, jauh di atas ekspektasi analis yang hanya sekitar 1,1 juta barel.
Dalam keseluruhan, harga minyak dunia tiba-tiba mendidih lagi karena sentimen geopolitik dan permintaan yang meningkat. Namun, pasar masih berada dalam kondisi oversupply, sehingga ruang kenaikan harga menjadi terbatas.
Harga minyak mentah acuan Amerika Serikat WTI (West Texas Intermediate) naik 2,88% dari hari sebelumnya dan menjadi US$61,07 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah acuan Brent juga menguat 2,84% secara harian dan melejit 2,73% secara mingguan.
Sentimen geopolitik di Venezuela menjadi faktor utama yang membuat harga minyak dunia naik. Kilang minyak Valero Energy membeli kargo minyak mentah Venezuela dari Vitol, menandai transaksi pertama oleh kilang Pantai Teluk AS sebagai bagian dari kesepakatan Washington-Caracas untuk membeli hingga 50 juta barel minyak Venezuela. Harga minyak Venezuela tersebut diperdagangkan dengan diskon sekitar US$8,5-US$9,5 per barel terhadap Brent.
Namun, perlu diingat bahwa kembalinya aliran ini berpotensi menambah pasokan di pasar, namun dalam jangka pendek dipandang sebagai faktor stabilisasi bagi rantai pasok global. Selain itu, sentimen geopolitik di Greenland juga menjadi pemicu harga minyak ikut terungkit. Langkah Presiden AS Donald Trump yang menarik kembali ancaman tarif terkait sengketa Greenland membuat pasar sebagai kabar baik bagi pertumbuhan ekonomi global dan konsumsi energi.
Sementara itu, International Energy Agency (IEA) memberikan sentimen positif dengan merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 menjadi 930.000 barel per hari, dari sebelumnya 860.000 bpd. Namun, revisi tersebut belum cukup untuk menghapus bayang-bayang surplus. Pasokan global masih diperkirakan melebihi permintaan sekitar 3,69 juta barel per hari tahun ini.
Di sisi lain, data persediaan minyak AS masih menjadi penahan laju harga minyak. American Petroleum Institute (API) mencatat kenaikan stok minyak mentah sebesar 3,04 juta barel pekan lalu, jauh di atas ekspektasi analis yang hanya sekitar 1,1 juta barel.
Dalam keseluruhan, harga minyak dunia tiba-tiba mendidih lagi karena sentimen geopolitik dan permintaan yang meningkat. Namun, pasar masih berada dalam kondisi oversupply, sehingga ruang kenaikan harga menjadi terbatas.