Kemarin, Kamis (28/1/2026), nilai tukar rupiah menutup di level Rp16.755 per dolar Amerika Serikat (AS), yang merupakan penurunan 33 poin atau 0,2 persen dari penutupan hari sebelumnya. Penurunan ini terjadi ketika nilai dollar AS meningkat sebesar 1,26 dolar AS.
Sementara itu, mata uang di Asia juga menunjukkan variasi besar-besaran dalam nilai tukarnya. Peso Filipina yang menjadi mata uang dengan penurunan terdalam, mencapai 0,20 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp58,95 per dolar AS, sementara ringgit Malaysia mengalami penurunan sebesar 0,01 poin atau 0,22 persen.
Dolar Taiwan turun 0,06 poin atau 0,20 persen ke level Rp31,34 per dolar AS, baht Thailand juga turun sebesar 0,06 poin atau 0,20 persen menjadi Rp31,17 per dolar AS. Sementara itu, rupee India turun sebesar 0,17 poin atau 0,19 persen menjadi Rp91,95 per dolar AS.
Namun, mata uang yang menunjukkan kenaikan adalah won Korea yang mengalami peningkatan sebesar 0,33 persen ke posisi Rp1.431,02 per dolar AS, yuan Cina naik 0,03 persen menjadi Rp6,95 per dolar AS, dan yen Jepang menguat 0,04 persen ke level Rp153,35 per dolar AS.
Penyebab penurunan nilai tukar rupiah ini terjadi karena sentimen negatif dari dalam negeri, seperti pemangkasan peringkat saham Indonesia menjadi "underweight" oleh Goldman Sachs Group Inc. Selain itu, juga ada tekanan dari potensi keluarnya dana sekitar 5,6 miliar dolar AS jika FTSE Russell meninjau ulang metodologi serta status free float pasar saham yang dirilis Bursa Efek Indonesia.
Sementara itu, tekanan geopolitik masih menjadi pendorong sentimen negatif bagi pasar keuangan dunia.
Sementara itu, mata uang di Asia juga menunjukkan variasi besar-besaran dalam nilai tukarnya. Peso Filipina yang menjadi mata uang dengan penurunan terdalam, mencapai 0,20 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp58,95 per dolar AS, sementara ringgit Malaysia mengalami penurunan sebesar 0,01 poin atau 0,22 persen.
Dolar Taiwan turun 0,06 poin atau 0,20 persen ke level Rp31,34 per dolar AS, baht Thailand juga turun sebesar 0,06 poin atau 0,20 persen menjadi Rp31,17 per dolar AS. Sementara itu, rupee India turun sebesar 0,17 poin atau 0,19 persen menjadi Rp91,95 per dolar AS.
Namun, mata uang yang menunjukkan kenaikan adalah won Korea yang mengalami peningkatan sebesar 0,33 persen ke posisi Rp1.431,02 per dolar AS, yuan Cina naik 0,03 persen menjadi Rp6,95 per dolar AS, dan yen Jepang menguat 0,04 persen ke level Rp153,35 per dolar AS.
Penyebab penurunan nilai tukar rupiah ini terjadi karena sentimen negatif dari dalam negeri, seperti pemangkasan peringkat saham Indonesia menjadi "underweight" oleh Goldman Sachs Group Inc. Selain itu, juga ada tekanan dari potensi keluarnya dana sekitar 5,6 miliar dolar AS jika FTSE Russell meninjau ulang metodologi serta status free float pasar saham yang dirilis Bursa Efek Indonesia.
Sementara itu, tekanan geopolitik masih menjadi pendorong sentimen negatif bagi pasar keuangan dunia.