Terdakwa Ungkap 40 Pejabat Bank BJB Ikut Loloskan Kredit Sritex

Dicky Syahbandinata, mantan Kepala Divisi Korporasi dan Komersial Bank BJB, mengungkap ketakutannya di hadapan majelis hakim dalam sidang Senin 20/1/2026. Ia bertanya-tanya mengapa hanya ia yang terdakwa dalam kasus korupsi kredit PT Sritex, padahal keputusan kredit tersebut melibatkan sekitar 40 penandatangan dari berbagai divisi.

Dicky mempertanyakan adanya kesepatan yang tidak adil. Ia menegaskan bahwa persetujuan kredit Sritex bukanlah keputusan pribadi, melainkan hasil mekanisme berlapis yang harus dilalui sesuai dengan standar operasional perbankan.

Saat ini, Dicky menghadapi kasus korupsi kredit Sritex bersama Yuddy Renaldi dan Beny Ruswandi. Mereka adalah tiga petinggi Bank BJB yang menandatangani keputusan kredit tersebut. Selain itu, ada tiga petinggi Sritex yang juga terjerat dalam kasus ini.

Kasus korupsi kredit ini disebut menyebabkan kerugian negara Rp671 miliar. Pada awalnya, bank BJB merestrukturisasi kredit tersebut untuk menghindari kerugian lebih besar. Namun, masih ada beberapa masalah yang perlu diselesaikan sebelum kasus ini ditutup.

Dicky mengatakan bahwa proses persetujuan kredit berlangsung secara bottom up. Analisis dimulai dari divisi risiko, kemudian dibahas di divisi korporasi, dan akhirnya naik ke rapat komite kredit. Keputusan akhir bukan hanya berada di tangan Dicky seorang, melainkan diputuskan secara kolektif oleh forum komite.

Dalam sidang Senin 20/1/2026, pejabat Bank BJB Endang Rosmardani bersaksi mengenai proses pengajuan kredit Sritex. Ia menegaskan bahwa keputusan kredit bukanlah keputusan pribadi, melainkan diputuskan oleh komite yang terdiri dari berbagai divisi bank.

Kasus korupsi kredit ini akan dihadapi dalam pengadilan penanaman jala. Karena itu, Dicky mengharapkan pengadilan untuk memberikan keadilan bagi dirinya dan para pejabat Bank BJB lainnya.
 
Dicky Syahbandinata mantan Kepala Divisi Korporasi Bank BJB memang harus wajib tahu siapa-siapa yang terlibat dalam kasus korupsi kredit Sritex, tapi aku pikir ada kesalahpahaman disini. Jika 40 penandatangan dari berbagai divisi terlibat, apa salahnya dia bertanya-tanya? Tidak adil kalau dia hanya bertanggung jawab atas keputusan kredit itu sendiri 😐

Aku rasa kasus ini lebih kompleks dari apa yang disampaikan. Jika proses persetujuan kredit berlangsung secara bottom up, seperti yang dikatakan Dicky, maka siapa yang salah kalau dia bertanya-tanya? Tidak ada keputusan kredit yang "berada di tangan satu orang" 😒.

Aku harap pengadilan bisa memberikan keadilan bagi Dicky dan para pejabat Bank BJB lainnya. Kasus ini memang menyebabkan kerugian negara Rp671 miliar, tapi aku rasa ada beberapa hal yang perlu diselesaikan sebelum kasus ini ditutup 🤔.
 
Apa kata Dicky nih, kalau dia harus bertanggung jawab atas kasus korupsi kredit Sritex sendiri? Tapi juga dia tahu kalau keputusan itu bukan hanya dia yang menandatangani, tapi ada banyak orang lagi. Jadi, mengapa dia saja yang diadili? 🤔
 
Saya pikir Dicky Syahbandinata memang benar-benar takut, tapi tidak salah pula karena dia bilang persetujuan kredit Sritex bukanlah keputusan pribadinya. Mungkin ada yang salah dengan cara kasus ini dijalankan, tapi saya yakin Dicky tidak melakukan kesalahan besar. Yang penting adalah dia dan para pejabat Bank BJB lainnya harus mendapatkan keadilan. Mereka tidak berbohong, jadi apa yang terjadi? Saya rasa ini kasus yang rumit dan membutuhkan waktu untuk diselesaikan. 🤔💼
 
Aku pikir ini kasus yang serius banget, tapi juga bikin aku bingung. Siapa sih yang salah? Kita lihat, Dicky bukan orang solo yang menandatangani keputusan kredit Sritex. Ada banyak penandatangan dari berbagai divisi bank BJB. Tapi apa itu, sih? Kenapa Dicky saja yang menjadi tahanan? Aku rasa ini bikin keraguan. Kita harus lihat, ada jawabannya di mana?
 
Saya paham kalau ada kasus korupsi kredit yang serius banget 🤔. Tapi gue penasaran, kenapa hanya Dicky yang terdakwa? Apakah ia lulus tes kinerja yang keras? 🤷‍♂️ Saya tahu kalau ada 40 penandatangan lainnya dari divisi lain, tapi kenapa mereka tidak terdakwa? Gue rasa ada sesuatu yang salah dengan sistemnya. Dan apa sih maksud dengan "mekanisme berlapis" itu? Apakah itu seperti kerja sama tim di korporasi? 🤔
 
Aku pikir ini kasus korupsi yang terlalu panjang dan berantai. Kalau benar-benar prosesnya bottom up, maka siapa yang salah kalau ada kesepatan tidak adil? Aku rasa ada kesalahpahaman dalam proses pengajuan kredit Sritex. Tapi, aku masih ragu-ragu apa yang sebenarnya terjadi di balik semuanya... 🤔📝
 
Sangat keberatan kalau kasus korupsi ini terjadi nih! Semua orang di Bank BJB yang menandatangani keputusan kredit itu harus disosialisasikan, bukan hanya Dicky aja yang diculik. Yang penting adalah ada kesepatan yang adil, tapi sekarang giliran Dicky yang menghadapi tuduhan aja... 🤔😕
 
🤔 Saya rasa kasus korupsi kredit ini memang menarik perhatian kita semua. Tapi, gak bisa tidak rasanya sih, banyak yang salah dalam proses itu. Mereka ini sama-sama terlibat, kan? Tidak ada salah satu yang benar-benar bertanggung jawab atas kesalahan itu. 🙅‍♂️

Saya penasaran juga dengan cara kerja bank di Indonesia. Seringkali diartikulasikan bahwa bank ini hanya dipimpin oleh beberapa orang, tapi sebenarnya ada banyak proses yang harus dilakukan bersama-sama. Jadi, siapa yang benar-benar salah? 🤷‍♂️

Saya juga rasa kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bagaimana cara mengatasi kesalahan dan mencari solusi bersama-sama. Mereka ini tidak harus dihukum terlalu berat, tapi mereka harus belajar dari kesalahan itu. 🤝
 
Paham kan kalau sistem ini terlalu kompleks, membuat sulit untuk menemukan orang yang bertanggung jawab atas kesalahan itu 🤔. Jika Dicky bukan orang paling banyak yang bertanggung jawab, maka bagaimana caranya kasus ini bisa jadi korupsi? Perlu diinvestigasi lebih lanjut tentang mekanisme kredit Sritex dan bagaimana prosesnya bekerja 👀.
 
kembali
Top