Daihatsu, salah satu pemain industri otomotif di Indonesia, telah mengembangkan teknologi SSC (Simple, Slim, Compact) yang menjadi rahasia di balik efisiensi produksi mereka. Konsep ini memfokuskan pada filosofi produksi yang sederhana, hemat ruang, dan efektif dalam meningkatkan produktivitas tanpa menurunkan kualitas.
Dengan demikian, Daihatsu berhasil mengoptimalkan proses produksi di pabrik mereka, termasuk di Kyoto Plant yang menjadi model generasi baru. Prinsip SSC ini diterapkan untuk menyederhanakan proses, menghemat ruang, dan meningkatkan produktivitas tanpa menurunkan kualitas.
Salah satu inovasi dari konsep SSC adalah sistem pengelasan bodi tanpa jig yang memungkinkan Daihatsu untuk menghilangkan alat tersebut sepenuhnya. Gantinya, mereka menggunakan robot presisi tinggi yang bisa menyesuaikan diri untuk berbagai model mobil.
Hasilnya, jumlah proses dapat dipangkas hingga separuh dan efisiensi ruang meningkat drastis. Di pabrik Kyoto sendiri, robot ditempatkan dengan jarak tiga kali lebih rapat dibanding pabrik konvensional. Alur produksi dibuat ringkas, sementara sistem pengangkutan bodi kendaraan menggunakan metode slipper carrier dua bagian yang bisa bergerak di bawah bodi mobil dan kembali ke posisi semula setelah proses selesai.
Dengan menempatkan operator dan robot lebih dekat, komunikasi antar pekerja meningkat dan produktivitas pun naik. Daihatsu ingin membangun pabrik yang ramping namun cerdas, sederhana namun produktif. Teknologi SSC kini menjadi simbol efisiensi Daihatsu, menunjukkan bahwa inovasi tak harus megah β cukup sederhana, hemat ruang, dan tepat guna.
Dengan demikian, Daihatsu membuktikan bahwa efisiensi dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan dalam satu lini produksi.
Dengan demikian, Daihatsu berhasil mengoptimalkan proses produksi di pabrik mereka, termasuk di Kyoto Plant yang menjadi model generasi baru. Prinsip SSC ini diterapkan untuk menyederhanakan proses, menghemat ruang, dan meningkatkan produktivitas tanpa menurunkan kualitas.
Salah satu inovasi dari konsep SSC adalah sistem pengelasan bodi tanpa jig yang memungkinkan Daihatsu untuk menghilangkan alat tersebut sepenuhnya. Gantinya, mereka menggunakan robot presisi tinggi yang bisa menyesuaikan diri untuk berbagai model mobil.
Hasilnya, jumlah proses dapat dipangkas hingga separuh dan efisiensi ruang meningkat drastis. Di pabrik Kyoto sendiri, robot ditempatkan dengan jarak tiga kali lebih rapat dibanding pabrik konvensional. Alur produksi dibuat ringkas, sementara sistem pengangkutan bodi kendaraan menggunakan metode slipper carrier dua bagian yang bisa bergerak di bawah bodi mobil dan kembali ke posisi semula setelah proses selesai.
Dengan menempatkan operator dan robot lebih dekat, komunikasi antar pekerja meningkat dan produktivitas pun naik. Daihatsu ingin membangun pabrik yang ramping namun cerdas, sederhana namun produktif. Teknologi SSC kini menjadi simbol efisiensi Daihatsu, menunjukkan bahwa inovasi tak harus megah β cukup sederhana, hemat ruang, dan tepat guna.
Dengan demikian, Daihatsu membuktikan bahwa efisiensi dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan dalam satu lini produksi.