Penerimaan Negara Tidak Mencukupi Target, Fiskal Terus Menghadapi Tekanan.
Kinerja pemerintah dalam mengelola fiskal nasional terus diuji pada beberapa tahun terakhir. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan berbagai penyesuaian kebijakan struktural di dalam negeri telah memberikan tekanan nyata terhadap kinerja penerimaan negara. Pemerintah harus mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja fiskal, termasuk struktur penerimaan yang masih didominasi oleh pajak dan cukai.
Kementerian Keuangan RI (2026) menunjukkan bahwa kinerja penerimaan negara sepanjang tahun anggaran 2025 menghadapi tekanan yang cukup signifikan. Total pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun, atau sekitar 91,7% dari outlook semester II sebesar Rp2.865,5 triliun, sehingga terdapat shortfall sekitar Rp109,2 triliun.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa kapasitas fiskal pemerintah belum sepenuhnya optimal dalam menopang kebutuhan belanja negara, khususnya di tengah tuntutan menjaga stabilitas ekonomi makro dan keberlanjutan program prioritas nasional. Meski demikian, terdapat beberapa komponen penerimaan yang berperan sebagai penyangga fiskal.
Pemerintah harus mempertimbangkan untuk meningkatkan struktur penerimaan agar tidak terlalu bergantung pada pajak dan cukai saja. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dan bea keluar, serta mengoptimalkan pengelolaan fiskal.
Kinerja pemerintah dalam mengelola fiskal nasional terus diuji pada beberapa tahun terakhir. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan berbagai penyesuaian kebijakan struktural di dalam negeri telah memberikan tekanan nyata terhadap kinerja penerimaan negara. Pemerintah harus mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja fiskal, termasuk struktur penerimaan yang masih didominasi oleh pajak dan cukai.
Kementerian Keuangan RI (2026) menunjukkan bahwa kinerja penerimaan negara sepanjang tahun anggaran 2025 menghadapi tekanan yang cukup signifikan. Total pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun, atau sekitar 91,7% dari outlook semester II sebesar Rp2.865,5 triliun, sehingga terdapat shortfall sekitar Rp109,2 triliun.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa kapasitas fiskal pemerintah belum sepenuhnya optimal dalam menopang kebutuhan belanja negara, khususnya di tengah tuntutan menjaga stabilitas ekonomi makro dan keberlanjutan program prioritas nasional. Meski demikian, terdapat beberapa komponen penerimaan yang berperan sebagai penyangga fiskal.
Pemerintah harus mempertimbangkan untuk meningkatkan struktur penerimaan agar tidak terlalu bergantung pada pajak dan cukai saja. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dan bea keluar, serta mengoptimalkan pengelolaan fiskal.