Guru Honorer Tumpahkan Keluhan di Senayan
Kemarin, di ruang rapat Baleg DPR, Jakarta, seorang guru honorer bernama Indah Permata Sari menangis. Ia mengungkapkan kesulitan yang dialaminya saat mencari informasi tentang data pendidikan. "Data pendidikan itu apa?" tanyanya kepada Ketua Baleg DPR Bob Hasan.
"Tapdapok, Pak," jawabnya. Sulitnya untuk masuk dalam sistem data pendidikan (Dapodik) mempersulit Indah dan banyak guru honorer lainnya untuk mencari informasi dan mengakses berbagai layanan pemerintah. Bahkan, saat ada pembukaan pendaftaran program P3K, yang diberi label sebagai "Program Pendidikan Khusus", mereka juga tertinggal karena data mereka tidak masuk dalam sistem tersebut.
"Pulang mengajar jadi antar jemput laundry," kata Indah sambil menangis. Dia menjelaskan bahwa setelah mengajar, ia harus bekerja mengantar laundry untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kesedihan yang dialaminya membuatnya pulang ke rumah dengan hati yang sedih.
"Ia hanya harap bisa bergabung dalam program P3K penuh waktu," ujarnya.
Kemudian, ia menambahkan bahwa banyak guru dan tenaga pendidik lain mengalami kesulitan sama seperti dia. "Itu paling sedih sih, Pak. Harapan saya dan teman-teman," kata Indah.
Kemarin, di ruang rapat Baleg DPR, Jakarta, seorang guru honorer bernama Indah Permata Sari menangis. Ia mengungkapkan kesulitan yang dialaminya saat mencari informasi tentang data pendidikan. "Data pendidikan itu apa?" tanyanya kepada Ketua Baleg DPR Bob Hasan.
"Tapdapok, Pak," jawabnya. Sulitnya untuk masuk dalam sistem data pendidikan (Dapodik) mempersulit Indah dan banyak guru honorer lainnya untuk mencari informasi dan mengakses berbagai layanan pemerintah. Bahkan, saat ada pembukaan pendaftaran program P3K, yang diberi label sebagai "Program Pendidikan Khusus", mereka juga tertinggal karena data mereka tidak masuk dalam sistem tersebut.
"Pulang mengajar jadi antar jemput laundry," kata Indah sambil menangis. Dia menjelaskan bahwa setelah mengajar, ia harus bekerja mengantar laundry untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kesedihan yang dialaminya membuatnya pulang ke rumah dengan hati yang sedih.
"Ia hanya harap bisa bergabung dalam program P3K penuh waktu," ujarnya.
Kemudian, ia menambahkan bahwa banyak guru dan tenaga pendidik lain mengalami kesulitan sama seperti dia. "Itu paling sedih sih, Pak. Harapan saya dan teman-teman," kata Indah.