Jika Indonesia ingin terus menjadi bagian dari rantai pasok industri teknologi global, maka perlu ada pengembangan infrastruktur dan inovasi yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Menurut Kementerian Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, masih banyak peluang bagi Indonesia untuk membangun pabrik semikonduktor sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, impor semikonduktor di Indonesia meningkat secara signifikan hingga mencapai Rp 4,87 triliun pada periode Januari-November 2025. Namun, hal ini juga menunjukkan bahwa masih banyak potensi bagi industri nasional untuk meningkatkan produksi dan mengurangi ketergantungan akan impor.
"Jika kita bisa meningkatkan kapasitas produksi semikonduktor di dalam negeri, maka kami dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan penerimaan devisa," kata Agus Gumiwang Kartasasmita.
Salah satu contoh dari investasi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan industri nasional adalah pembangunan fasilitas industri semikonduktor di Batam. Proyek ini telah dimulai dan diharapkan dapat selesai pada 2027. Proyek ini akan dibangun oleh konsorsium Amerika Serikat-Jerman.
Namun, perlu diingat bahwa investasi juga harus dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi proses produksi. Oleh karena itu, penting untuk memiliki rencana yang matang dan memahami potensi risiko yang ada.
Investor Taiwan masih mengantre untuk berinvestasi di Indonesia, tetapi dinamika dan tantangan yang mereka hadapi sangat berbeda dibandingkan investor Amerika Serikat. Investasi dari China juga telah dimulai, namun prosesnya sangat lambat karena faktor perizinan.
"Kita harus memahami bahwa investasi tidak hanya tentang membawa teknologi ke dalam negeri, tetapi juga tentang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian," kata Akhmad Ma'ruf Maulana, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI).
Dalam beberapa tahun terakhir, impor semikonduktor di Indonesia meningkat secara signifikan. Pada 2025, impor semikonduktor Indonesia didominasi oleh Taiwan sebesar Rp 1,35 triliun dan Tiongkok sebesar Rp 1,24 triliun.
Dalam beberapa tahun terakhir, impor semikonduktor di Indonesia meningkat secara signifikan hingga mencapai Rp 4,87 triliun pada periode Januari-November 2025. Namun, hal ini juga menunjukkan bahwa masih banyak potensi bagi industri nasional untuk meningkatkan produksi dan mengurangi ketergantungan akan impor.
"Jika kita bisa meningkatkan kapasitas produksi semikonduktor di dalam negeri, maka kami dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan penerimaan devisa," kata Agus Gumiwang Kartasasmita.
Salah satu contoh dari investasi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan industri nasional adalah pembangunan fasilitas industri semikonduktor di Batam. Proyek ini telah dimulai dan diharapkan dapat selesai pada 2027. Proyek ini akan dibangun oleh konsorsium Amerika Serikat-Jerman.
Namun, perlu diingat bahwa investasi juga harus dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi proses produksi. Oleh karena itu, penting untuk memiliki rencana yang matang dan memahami potensi risiko yang ada.
Investor Taiwan masih mengantre untuk berinvestasi di Indonesia, tetapi dinamika dan tantangan yang mereka hadapi sangat berbeda dibandingkan investor Amerika Serikat. Investasi dari China juga telah dimulai, namun prosesnya sangat lambat karena faktor perizinan.
"Kita harus memahami bahwa investasi tidak hanya tentang membawa teknologi ke dalam negeri, tetapi juga tentang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian," kata Akhmad Ma'ruf Maulana, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI).
Dalam beberapa tahun terakhir, impor semikonduktor di Indonesia meningkat secara signifikan. Pada 2025, impor semikonduktor Indonesia didominasi oleh Taiwan sebesar Rp 1,35 triliun dan Tiongkok sebesar Rp 1,24 triliun.