Pekerja Indonesia paling bahagia di Asia Pasifik, tapi masih ada yang kelelahan
Banyak perusahaan mungkin tidak menyadari bahwa mereka memiliki karyawan yang sangat bahagia dan termotivasi untuk bekerja, tetapi masih mengalami tingkat kelelahan kerja atau "burnout" yang cukup tinggi. Menurut survei terhadap 1.000 responden usia 18-64 tahun yang dilakukan pada Oktober-November 2025, sebanyak 37 persen pekerja Indonesia mengaku sangat bahagia dan 45 persen bahagia dengan pekerjaannya. Ini membuat sekitar 82 persen responden berada dalam kategori bahagia, tertinggi dibandingkan negara Asia Pasifik lain yang disurvei.
Tapi apa pun kebahagiaan umum ini, masih ada banyak pekerja Indonesia yang mengalami burnout. Dengan demikian, sekitar 43 persen pekerja Indonesia merasa kelelahan kerja dan hanya 44 persen responden puas dengan tingkat stres yang mereka alami.
Pekerja Indonesia bahagia cenderung termotivasi untuk bekerja melampaui ekspektasi, tetapi masih ada banyak pekerja tidak bahagia menyatakan enggan memberikan usaha ekstra bagi perusahaan. Perusahaan pun harus memperhatikan keseimbangan hidup-kerja dan hubungan dengan kolega sebagai pendorong utama kebahagiaan pekerja.
Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director Jobstreet Indonesia, mengatakan bahwa tingginya tingkat kebahagiaan pekerja di Indonesia tidak lepas dari faktor budaya dan relasi sosial di tempat kerja. Beban kerja yang berat dan budaya bekerja lembur masih cukup kuat di Indonesia, sehingga isu kebahagiaan di tempat kerja tidak bisa dilepaskan dari pengelolaan beban kerja.
Perusahaan pun harus menanggapi kekhawatiran pekerja terhadap keamanan kerja, seperti perkembangan kecerdasan buatan (AI). Sebanyak 42 persen responden merasa pekerjaannya terancam oleh AI, dengan angka tersebut meningkat menjadi 54 persen di sektor teknologi.
Gunaka Jobstreet merekomendasikan perusahaan untuk tidak hanya mengandalkan kompensasi, tetapi juga memperkuat fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang realistis, serta membangun kepemimpinan yang lebih terbuka dan apresiatif guna menekan burnout dan menjaga produktivitas pekerja di tengah tingkat kebahagiaan yang relatif tinggi.
Banyak perusahaan mungkin tidak menyadari bahwa mereka memiliki karyawan yang sangat bahagia dan termotivasi untuk bekerja, tetapi masih mengalami tingkat kelelahan kerja atau "burnout" yang cukup tinggi. Menurut survei terhadap 1.000 responden usia 18-64 tahun yang dilakukan pada Oktober-November 2025, sebanyak 37 persen pekerja Indonesia mengaku sangat bahagia dan 45 persen bahagia dengan pekerjaannya. Ini membuat sekitar 82 persen responden berada dalam kategori bahagia, tertinggi dibandingkan negara Asia Pasifik lain yang disurvei.
Tapi apa pun kebahagiaan umum ini, masih ada banyak pekerja Indonesia yang mengalami burnout. Dengan demikian, sekitar 43 persen pekerja Indonesia merasa kelelahan kerja dan hanya 44 persen responden puas dengan tingkat stres yang mereka alami.
Pekerja Indonesia bahagia cenderung termotivasi untuk bekerja melampaui ekspektasi, tetapi masih ada banyak pekerja tidak bahagia menyatakan enggan memberikan usaha ekstra bagi perusahaan. Perusahaan pun harus memperhatikan keseimbangan hidup-kerja dan hubungan dengan kolega sebagai pendorong utama kebahagiaan pekerja.
Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director Jobstreet Indonesia, mengatakan bahwa tingginya tingkat kebahagiaan pekerja di Indonesia tidak lepas dari faktor budaya dan relasi sosial di tempat kerja. Beban kerja yang berat dan budaya bekerja lembur masih cukup kuat di Indonesia, sehingga isu kebahagiaan di tempat kerja tidak bisa dilepaskan dari pengelolaan beban kerja.
Perusahaan pun harus menanggapi kekhawatiran pekerja terhadap keamanan kerja, seperti perkembangan kecerdasan buatan (AI). Sebanyak 42 persen responden merasa pekerjaannya terancam oleh AI, dengan angka tersebut meningkat menjadi 54 persen di sektor teknologi.
Gunaka Jobstreet merekomendasikan perusahaan untuk tidak hanya mengandalkan kompensasi, tetapi juga memperkuat fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang realistis, serta membangun kepemimpinan yang lebih terbuka dan apresiatif guna menekan burnout dan menjaga produktivitas pekerja di tengah tingkat kebahagiaan yang relatif tinggi.