Indonesia yang berpotensi menjadi peradaban pertanian terbesar di dunia saat ini menghadapi tantangan yang kompleks, seperti perubahan iklim, dinamika geopolitik global, alih fungsi lahan, keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan pertanian, serta kebutuhan untuk beradaptasi dengan teknologi pertanian modern.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah Indonesia melalui kegiatan Sustainable Pesticide Management Framework (SPMF) yang digelar pada tanggal 29 Januari di Jakarta. SPMF ini merupakan kerangka nasional pengelolaan pestisida berkelanjutan di Indonesia dengan melibatkan para pemangku kepentingan.
" Inisiatif ini sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam memajukan pertanian berkelanjutan guna memperkuat ketahanan pangan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani", ujar Kukuh Ambar Waluyo, Head of Crop Protection Research & Development Asia Tenggara dan Pakistan, Bayer Crop Science serta Chairman CropLife Indonesia.
Berbagai program strategis pemerintah seperti penyaluran pupuk bersubsidi, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), dan perbaikan sistem irigasi dianggap menjadi fondasi penting dalam transisi Indonesia dari pertanian konvensional menuju pertanian modern.
Namun, pemanfaatan inovasi dan sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk, dan produk perlindungan tanaman harus dikelola secara aman, bertanggung jawab, dan berbasis ilmu pengetahuan. Kukuh Ambar Waluyo juga menyatakan bahwa SPMF bertujuan memperkuat kapasitas nasional dalam merancang kebijakan pengelolaan produk perlindungan tanaman yang berkelanjutan.
Tiga pilar utama dari SPMF adalah mendorong adopsi teknologi perlindungan tanaman berbasis risiko, menguatkan inovasi dan digitalisasi pertanian, serta mendorong praktik bertanggung jawab melalui pelatihan berkelanjutan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah Indonesia melalui kegiatan Sustainable Pesticide Management Framework (SPMF) yang digelar pada tanggal 29 Januari di Jakarta. SPMF ini merupakan kerangka nasional pengelolaan pestisida berkelanjutan di Indonesia dengan melibatkan para pemangku kepentingan.
" Inisiatif ini sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam memajukan pertanian berkelanjutan guna memperkuat ketahanan pangan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani", ujar Kukuh Ambar Waluyo, Head of Crop Protection Research & Development Asia Tenggara dan Pakistan, Bayer Crop Science serta Chairman CropLife Indonesia.
Berbagai program strategis pemerintah seperti penyaluran pupuk bersubsidi, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), dan perbaikan sistem irigasi dianggap menjadi fondasi penting dalam transisi Indonesia dari pertanian konvensional menuju pertanian modern.
Namun, pemanfaatan inovasi dan sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk, dan produk perlindungan tanaman harus dikelola secara aman, bertanggung jawab, dan berbasis ilmu pengetahuan. Kukuh Ambar Waluyo juga menyatakan bahwa SPMF bertujuan memperkuat kapasitas nasional dalam merancang kebijakan pengelolaan produk perlindungan tanaman yang berkelanjutan.
Tiga pilar utama dari SPMF adalah mendorong adopsi teknologi perlindungan tanaman berbasis risiko, menguatkan inovasi dan digitalisasi pertanian, serta mendorong praktik bertanggung jawab melalui pelatihan berkelanjutan.