Aurelie Moeremans meluncurkan memoir personalnya berjudul "Broken Strings" pada 10 Oktober lalu. Buku ini merupakan kisah traumatisnya sebagai korban grooming, manipulasi emosional, dan kekerasan dalam hubungan tidak sehat yang ia alami sejak usia muda. Dalam buku ini, Aurelie dengan jujur membuka masa mudanya yang "dicuri" oleh Bobby, seorang pria dewasa yang menipunya cinta, namun lama-kelamaan menjadi sosok manipulatif dan abusif.
Cerita dibangun mencerminkan kondisi batin korban trauma seperti ingatan yang terpecah, rasa bersalah, ketakutan, dan kebingungan. Aurelie menunjukkan bagaimana relasi yang dibungkus dalih cinta dapat menjadi alat kontrol yang menghancurkan identitas, harga diri, dan masa depan seorang perempuan, terutama ketika korban berada dalam posisi usia dan kuasa yang jauh berbeda.
Buku ini juga menepis berbagai rumor lama tentang kehidupannya, termasuk isu pernikahan dan anak, serta meluruskan stigma yang kerap diarahkan pada korban. Lebih dari sekadar kisah kekerasan, "Broken Strings" adalah cerita tentang proses penyembuhan Aurelie menulis bagaimana ia perlahan belajar memeluk dirinya sendiri, memaafkan masa lalu, dan keluar dari siklus trauma yang jelas butuh proses yang panjang, tidak mudah, dan penuh rasa sakit.
Dukungan keluarga digambarkan sebagai faktor krusial yang membantunya bertahan dan bangkit. Di bagian akhir, buku ini berubah menjadi suara harapan bahwa bertahan hidup saja sudah merupakan keberanian, dan bahwa luka yang dulu dianggap aib bisa menjelma menjadi cahaya bagi orang lain.
Aurelie membagikan buku ini secara gratis dalam bentuk PDF dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. "Ini kisahku, traumaku, tapi juga kesembuhanku. Dan saat tahu kisah ini bisa menolong orang lain, rasanya seperti keajaiban yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun," tulisnya di akhir buku.
Cerita dibangun mencerminkan kondisi batin korban trauma seperti ingatan yang terpecah, rasa bersalah, ketakutan, dan kebingungan. Aurelie menunjukkan bagaimana relasi yang dibungkus dalih cinta dapat menjadi alat kontrol yang menghancurkan identitas, harga diri, dan masa depan seorang perempuan, terutama ketika korban berada dalam posisi usia dan kuasa yang jauh berbeda.
Buku ini juga menepis berbagai rumor lama tentang kehidupannya, termasuk isu pernikahan dan anak, serta meluruskan stigma yang kerap diarahkan pada korban. Lebih dari sekadar kisah kekerasan, "Broken Strings" adalah cerita tentang proses penyembuhan Aurelie menulis bagaimana ia perlahan belajar memeluk dirinya sendiri, memaafkan masa lalu, dan keluar dari siklus trauma yang jelas butuh proses yang panjang, tidak mudah, dan penuh rasa sakit.
Dukungan keluarga digambarkan sebagai faktor krusial yang membantunya bertahan dan bangkit. Di bagian akhir, buku ini berubah menjadi suara harapan bahwa bertahan hidup saja sudah merupakan keberanian, dan bahwa luka yang dulu dianggap aib bisa menjelma menjadi cahaya bagi orang lain.
Aurelie membagikan buku ini secara gratis dalam bentuk PDF dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. "Ini kisahku, traumaku, tapi juga kesembuhanku. Dan saat tahu kisah ini bisa menolong orang lain, rasanya seperti keajaiban yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun," tulisnya di akhir buku.