Aurelie Moeremans Merilis Buku Trauma Hidupnya yang Diberi Judul "Garis-Garis Pecah". Aurelie membagikannya secara gratis dalam bentuk PDF dua bahasa. Buku ini menangani pengalaman traumatisnya sebagai penyintas grooming, manipulasi emosional, dan kekerasan dalam hubungan tidak sehat yang ia alami sejak usia sangat muda.
Buku ini memiliki kesan yang eksplosif karena Aurelie menyampaikan kisah hidupnya dengan jujur dan berani. Bukan hanya itu, dia juga menunjukkan bagaimana relasi yang dibungkus dalih cinta dapat menjadi alat kontrol yang menghancurkan identitas, harga diri, dan masa depan seorang perempuan.
Aurelie sendiri tidak memakai bantuan editor untuk menulis buku ini. Bahkan dia memilih untuk mendesain sampulnya sendiri dan merencanakan untuk menerbitkannya pada tanggal 10 Oktober dengan total 220 halaman. Dia ingin mengubah maknanya, menjadikannya hari kemenangan.
Di dalam buku ini, Aurelie juga menulis tentang proses penyembuhan yang ia lalui. Ia perlahan belajar memeluk dirinya sendiri, memaafkan masa lalu, dan keluar dari siklus trauma yang jelas butuh proses yang panjang, tidak mudah, dan penuh rasa sakit.
Buku ini memiliki sentuhan harapan dengan menceritakan bahwa bertahan hidup saja sudah merupakan keberanian, dan bahwa luka yang dulu dianggap aib bisa menjelma menjadi cahaya bagi orang lain.
Buku ini memiliki kesan yang eksplosif karena Aurelie menyampaikan kisah hidupnya dengan jujur dan berani. Bukan hanya itu, dia juga menunjukkan bagaimana relasi yang dibungkus dalih cinta dapat menjadi alat kontrol yang menghancurkan identitas, harga diri, dan masa depan seorang perempuan.
Aurelie sendiri tidak memakai bantuan editor untuk menulis buku ini. Bahkan dia memilih untuk mendesain sampulnya sendiri dan merencanakan untuk menerbitkannya pada tanggal 10 Oktober dengan total 220 halaman. Dia ingin mengubah maknanya, menjadikannya hari kemenangan.
Di dalam buku ini, Aurelie juga menulis tentang proses penyembuhan yang ia lalui. Ia perlahan belajar memeluk dirinya sendiri, memaafkan masa lalu, dan keluar dari siklus trauma yang jelas butuh proses yang panjang, tidak mudah, dan penuh rasa sakit.
Buku ini memiliki sentuhan harapan dengan menceritakan bahwa bertahan hidup saja sudah merupakan keberanian, dan bahwa luka yang dulu dianggap aib bisa menjelma menjadi cahaya bagi orang lain.