Kekuatan Belahan Timur dan Ancaman dari Barat: Kenapa Nouri Al Maliki Kembali Menjadi Pilihan Utama di Irak?
Saat ini, mayoritas parlemen Irak memilih Nouri Al Maliki sebagai kandidat pemerintah yang kedua. Namun, kejadian itu membuat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengeluarkan ancaman. Siapa sebenarnya Nouri Al Maliki dan mengapa ia menjadi pilihan utama di Irak?
Menurut sumber yang dikenal, Nouri Al Maliki alias Jawฤd merupakan salah satu tokoh penting dalam politik Irak, khususnya dalam kelompok Syiah. Ia terlebih dahulu dikenal sebagai seorang aktivis Partai Dawa Islam di masa Saddam Hussein berkuasa. Meskipun ia termasuk dari partai yang dipimpin oleh pemimpin Kelompok Syiah Iran, ia tetap membangun hubungan dengan kelompok Sunni.
Pada tahun 2003, Nouri Al Maliki terpilih sebagai Perdana Menteri Irak setelah Saddam Hussein dianggap kehilangan kuasa. Pemerintahannya bertahan selama dua periode sampai pada tahun 2014 ketika ia mundur dari posisinya.
Sejak kemunculannya dalam politik, Nouri Al Maliki telah menjadi tokoh yang sangat kontroversial karena latar belakangnya yang menekan hubungan antara kelompok Syiah dan Sunni. Meskipun ia juga merupakan lawan Saddam Hussein, tetapi selama pemerintahannya dihadapkan pada konflik yang pecah di Irak bagian utara.
Sebagai hasil dari konflik tersebut, Nouri Al Maliki berusaha menenangkan situasi dengan menerima perjanjian damai antara kelompok Syiah dan Sunni. Namun, ia juga dideskripsikan sebagai orang yang memanfaatkan kekuasaannya untuk meningkatkan posisinya dalam pemerintahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Nouri Al Maliki menjadi tokoh utama di Irak karena dia memiliki kekuatan dalam kelompok Syiah. Meskipun ada kecaman dari berbagai pihak tetapi ia tetap menjadi pemain penting politik di Irak.
Sekarang, ia kembali bergerak maju untuk memimpin negara ini setelah diperkirakan pilihan rakyat mendukungnya sebagai calon Perdana Menteri. Namun, situasi ini membuat Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman. Dari mana asal kekuatan dan kelemahan Nouri Al Maliki? Apa yang memicu kecaman dari AS terhadap pemerintahannya?
Saat ini, mayoritas parlemen Irak memilih Nouri Al Maliki sebagai kandidat pemerintah yang kedua. Namun, kejadian itu membuat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengeluarkan ancaman. Siapa sebenarnya Nouri Al Maliki dan mengapa ia menjadi pilihan utama di Irak?
Menurut sumber yang dikenal, Nouri Al Maliki alias Jawฤd merupakan salah satu tokoh penting dalam politik Irak, khususnya dalam kelompok Syiah. Ia terlebih dahulu dikenal sebagai seorang aktivis Partai Dawa Islam di masa Saddam Hussein berkuasa. Meskipun ia termasuk dari partai yang dipimpin oleh pemimpin Kelompok Syiah Iran, ia tetap membangun hubungan dengan kelompok Sunni.
Pada tahun 2003, Nouri Al Maliki terpilih sebagai Perdana Menteri Irak setelah Saddam Hussein dianggap kehilangan kuasa. Pemerintahannya bertahan selama dua periode sampai pada tahun 2014 ketika ia mundur dari posisinya.
Sejak kemunculannya dalam politik, Nouri Al Maliki telah menjadi tokoh yang sangat kontroversial karena latar belakangnya yang menekan hubungan antara kelompok Syiah dan Sunni. Meskipun ia juga merupakan lawan Saddam Hussein, tetapi selama pemerintahannya dihadapkan pada konflik yang pecah di Irak bagian utara.
Sebagai hasil dari konflik tersebut, Nouri Al Maliki berusaha menenangkan situasi dengan menerima perjanjian damai antara kelompok Syiah dan Sunni. Namun, ia juga dideskripsikan sebagai orang yang memanfaatkan kekuasaannya untuk meningkatkan posisinya dalam pemerintahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Nouri Al Maliki menjadi tokoh utama di Irak karena dia memiliki kekuatan dalam kelompok Syiah. Meskipun ada kecaman dari berbagai pihak tetapi ia tetap menjadi pemain penting politik di Irak.
Sekarang, ia kembali bergerak maju untuk memimpin negara ini setelah diperkirakan pilihan rakyat mendukungnya sebagai calon Perdana Menteri. Namun, situasi ini membuat Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman. Dari mana asal kekuatan dan kelemahan Nouri Al Maliki? Apa yang memicu kecaman dari AS terhadap pemerintahannya?