Setahun MBG, Pakar Gizi Ingatkan Bom Waktu Penggunaan UPF

Setelah setahun program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan oleh Pemerintah, pelaksanaannya masih banyak yang memerlukan perbaikan. Menurut para ahli, salah satu masalahnya adalah penggunaan ulat procesed food (UPF) di dalam menu MBG yang mengandung gula, garam, dan lemak tambahan yang tinggi.

"Selama ini kita fokus pada kualitas menu, tapi tidak menyadari dampak jangka panjang dari konsumsi UPF," kata Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis, dosen departemen gizi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dampaknya mungkin tidak terlihat sekarang, tapi 10-15 tahun ke depan bisa menjadi bom waktu penyakit kronis.

Mirza mengatakan bahwa program MBG memiliki tujuan yang baik, yakni memperbaiki status gizi anak dan menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Namun, pelaksanaan program masih banyak yang memerlukan perbaikan. Kasus keracunan massal yang terjadi di beberapa daerah menunjukkan lemahnya pengawasan dalam proses penyiapan dan distribusi makanan.

"Penanganannya tidak bisa dilakukan dengan main-main," ujar Mirza. Ia mengusulkan agar sekolah diberi kewenangan lebih besar dalam penyediaan makan siang. Dengan cakupan yang lebih kecil, sekolah dinilai lebih mampu melakukan pengawasan sekaligus memanfaatkan bahan pangan lokal.

Mirza juga menekankan pentingnya menyesuaikan menu MBG dengan konteks lokal. "Kalau semua diseragamkan dengan UPF, itu tidak sesuai dengan kondisi lokal," ujarnya. Papua, misalnya, tidak bisa disamakan dengan Jawa atau Sumatra.

Investasi gizi baru akan terlihat setelah satu siklus pendidikan, sekitar 10 hingga 15 tahun. Karena itu, kebijakan MBG perlu dikawal secara ilmiah dan berkelanjutan. Sebagai langkah perbaikan, Mirza mengajukan tiga rekomendasi: penegakan ketat keamanan pangan dengan sanksi tegas bagi pihak yang lalai, pendampingan ilmiah oleh perguruan tinggi dan lintas sektor untuk memantau status gizi anak penerima MBG, serta kebijakan MBG harus fleksibel dan terbuka terhadap temuan ilmiah.
 
Kaya kayaknya ini program makan bergizi gratis nih 🤔. Aku pikir salah satu masalahnya adalah penggunaan ulat processed food di dalam menu MBG yang nggak baik untuk kesehatan. Aku ingat saat aku kecil, kita masih makan nasi dan sayuran yang segar, bukan seperti ini yang full sama gula dan garam 🤢.

Aku setuju dengan Dr. Mirza, program ini memiliki tujuan yang baik, tapi pelaksanaannya masih banyak yang memerlukan perbaikan 😐. Kasus keracunan massal itu nggak cuma biasa aja, tapi bisa jadi karena kurangnya pengawasan. Aku rasa sekolah harus diberi kewenangan lebih besar dalam penyediaan makan siang, seperti yang diusulkan Dr. Mirza 🤓.

Aku juga setuju dengan ide menyesuaikan menu MBG dengan konteks lokal. Kalau kita seragamkan dengan ulat processed food, itu nggak sesuai dengan kondisi lokal ya? Misalnya Papua, mereka harus dimasukkan dalam program yang sama dengan Jawa dan Sumatra? Itu nggak adem 🤷‍♂️.

Aku harap pemerintah bisa mengikuti rekomendasi Dr. Mirza, seperti penegakan ketat keamanan pangan, pendampingan ilmiah, dan kebijakan MBG yang fleksibel 🙏. Biar program ini bisa berjalan dengan baik dan tidak membuat keracunan massal lagi 😬.
 
Saya pikir program Makan Bergizi Gratis ini masih perlu banyak perbaikan 🤔. Sepertinya kunci kesuksesannya ada di dalam menyajikan menu yang sesuai dengan kondisi lokal, nggak bisa disamaikan sama sama dengan UPF ya 🍴. Misalnya di Papua, mereka memerlukan jenis makanan yang berbeda-beda ya 🤷‍♂️. Saya juga setuju kalau sekolah harus mendapatkan kewenangan lebih besar dalam penyediaan makan siang, nggak perlu diseragamkan sama-sama aja 📚.
 
Makin kabar gak sih nih? APA aja yang bikin aku penasaran... kalau program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa lebih baik lagi, apa dia punya solusinya? Kalau sekolah bisa berani mengawasi sendiri menu makanan yang diantar ke anak-anak, siapa tahu itu bisa membuat perbedaan. tapi nih, yang bikin aku kaget adalah Papua tidak bisa disamai dengan Jawa atau Sumatra... gimana caranya bisa dia disamai? kalau mau program MBG berubah jadi lebih baik lagi, apa dia punya rekomendasinya?
 
Hmmppp... MBG ini masih banyak yang salah... Penggunaan ulat processed food sih yang makin pernyataan Pemerintah semakin bodoh. Kalau serius ingin meningkatkan kualitas hidup anak, harus fokus pada pangan alami aja... Tapi, aku paham program ini memiliki tujuan yang baik, ya... Memperbaiki status gizi anak itu penting banget... Aku harap Pemerintah bisa mendengarkan saran para ahli seperti Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis... Sekolah harus diberi kewenangan lebih besar dalam penyediaan makan siang, bukan main-main aja... Dan pentingnya menyesuaikan menu MBG dengan konteks lokal, yah... Papua dan Jawa atau Sumatra itu beda bedaan ya... Aku harap kebijakan MBG bisa menjadi contoh yang baik di Indonesia...
 
Makasih banget dr ahli nutrition, ya! Kita harus lebih fokus pada kualitas makanan di MBG, bukan hanya kualitas saja. Kalau nggak, bisa jadi kita akan mengalami masalah gizi kronis nanti. Sepertinya pemerintah sudah punya rencana yang baik dengan program ini, tapi masih banyak yang perlu diperbaiki.

Saya pikir sekolah harus menjadi kunci di sini, ya! Mereka bisa lebih mudah mengawasi apa yang dikonsumsi anak-anak mereka dan memastikan bahwa makanan itu sehat. Dan tentu saja, kita harus menyesuaikan menu dengan konteks lokal, seperti di Papua atau daerah lain yang memiliki kebutuhan yang berbeda.

Moga-moga pemerintah bisa mendengarkan rekomendasi ahli ini dan melakukan perubahan yang lebih baik nanti! Kita harus bekerja sama untuk membuat Indonesia Emas 2045 menjadi kenyataan! 🙏🌿
 
Pagi.. aku pikir program makan bergizi gratis itu sangat keren banget! tapi sayangnya masih banyak yang bermasalah. seperti apa punya rekomendasi dari dr. mirza, aku setuju banget sama dia. sekolah harus diberi kewenangan lebih besar dalam penyediaan makan siang, jadi bisa ngawasan lebih baik dan tidak ada keracunan massal lagi. kalau bisa juga menyesuaikan menu dengan konteks lokal seperti di papua atau sumatera, agar bisa lebih sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. aku harap pemerintah bisa mengikuti rekomendasi dr. mirza dan membuat perubahan yang benar-benar efektif.. 🤔🍴
 
Aku pikir program Makan Bergizi Gratis ini benar-benar baik, tapi kemudian aku ingat lagi bahwa ada kasus keracunan massal yang terjadi di beberapa daerah... apa sih salahnya dengan program itu? 🤔 Kita harus lebih teliti, tapi juga tidak bisa mengatakan bahwa program ini sama sekali gagal. Aku pikir menyesuaikan menu MBG dengan konteks lokal adalah ide yang bagus, tapi lalu aku ingat lagi bahwa Papua dan Jawa/Sumatra memiliki perbedaan yang signifikan... gimana caranya membuat satu menu yang sesuai untuk semua wilayah? 🤷‍♂️ Dan aku pikir penegakan ketat keamanan pangan itu juga penting, tapi lalu aku ingat lagi bahwa itu bisa menganggap sebagai penindasan para petani dan produsen makanan... kita harus cari jalan tengah yang tepat. 🤝 Aku nggak tahu apa yang benar dan apa yang salah... mungkin aku hanya salah sendiri 😅
 
Saya pikir kembali lagi program MBG ini pasti ada masalah lain yang tidak disebutkan di artikel ini 🤔. Sepertinya pemerintah masih fokus pada program yang hanya memperbaiki status gizi anak, tapi tidak pernah mengingatkan akan dampak jangka panjang dari konsumsi makanan yang tidak sehat. Dan kalau kembali lagi, program MBG ini pasti biaya mahal dan tak terduga bagi beberapa keluarga miskin 🤑. Maka sebenarnya lebih baik pemerintah membuat program yang fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi lokal, bukan satu program yang sama untuk seluruh Indonesia 😒.
 
ada ya? sepertinya program mbg masih banyak yang perlu diperbaiki, kayaknya bukan cuma tentang menu aja, tapi juga tentang cara kerjanya. aku rasa sekolah harus diangkat sebagai bagian dari solusi, tidak hanya sekedar penyedia makan siang aja. kalau mau benar-benar efektif, harus ada evaluasi dan penyesuaian secara terus-menerus, jadi tidak seperti sekarang, ketinggian kebutuhan di satu daerah bisa berbeda dengan yang lain.
 
kembali
Top