Banyak orang Indonesia merasa lelah dengan permasalahan hidup yang terus-menerus menghantui diri. Pada saat seperti ini, kita sering menemukan diri sendiri dalam keadaan "self-pity", yaitu keadaan emosional ketika seseorang terlalu memikirkan penderitaan dan kemalangan dirinya sendiri.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan bertubi-tubi tentang alasan di balik kemalangan yang terjadi, mendorong perbandingan hidup dengan orang lain, dan memerangkap seseorang dalam pemikiran bahwa dirinya tidak berdaya, lemah, dan terjerumus ke dalam pola pikir negatif.
Saat mengasihani diri sendiri, seseorang akan cenderung kehilangan motivasi dan menutup diri dari orang lain. Menurut seorang psikolog, "self-pity" berbeda dengan rasa sedih yang sehat. Self-pity membuat seseorang terjebak dalam posisi sebagai korban, sehingga ia hanya fokus pada penderitaan.
Mengasihani diri sendiri cenderung merasa diperlakukan tidak adil. Ia akan terus-menerus bertanya alasan di balik kemalangannya, alih-alih memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan untuk bangkit. Masalahnya nyata, tetapi self-pity akan membuat kita berputar-putar pada rasa sakit tanpa bergerak menuju solusi.
Secara psikologis, self-pity melibatkan:
Fokus berlebihan pada penderitaan diri sendiri
Keyakinan bahwa penderitaan kita paling berat atau tidak adil
Perasaan tidak berdaya untuk memperbaiki keadaan
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan bertubi-tubi tentang alasan di balik kemalangan yang terjadi, mendorong perbandingan hidup dengan orang lain, dan memerangkap seseorang dalam pemikiran bahwa dirinya tidak berdaya, lemah, dan terjerumus ke dalam pola pikir negatif.
Saat mengasihani diri sendiri, seseorang akan cenderung kehilangan motivasi dan menutup diri dari orang lain. Menurut seorang psikolog, "self-pity" berbeda dengan rasa sedih yang sehat. Self-pity membuat seseorang terjebak dalam posisi sebagai korban, sehingga ia hanya fokus pada penderitaan.
Mengasihani diri sendiri cenderung merasa diperlakukan tidak adil. Ia akan terus-menerus bertanya alasan di balik kemalangannya, alih-alih memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan untuk bangkit. Masalahnya nyata, tetapi self-pity akan membuat kita berputar-putar pada rasa sakit tanpa bergerak menuju solusi.
Secara psikologis, self-pity melibatkan:
Fokus berlebihan pada penderitaan diri sendiri
Keyakinan bahwa penderitaan kita paling berat atau tidak adil
Perasaan tidak berdaya untuk memperbaiki keadaan