Saran SWF Malaysia ke Danantara: Batasi Intervensi Negara

Kemudian SWF Malaysia mengajukan saran untuk membatasi intervensi negara dalam pengelolaan dana kekayaan negara. Menurut Managing Director Khazanah Nasional Berhad, Dato' Feisal Zahir, ada perlu disepakati batasan yang jelas antara mandat investasi komersial dan membantu pemerintah sebagai agen pembangunan. Hal ini untuk menghindari kebingungan baik secara internal maupun di mata publik.

"Kalian harus sangat disiplin tentang itu. Dan tidak hanya disiplin, tetapi memberi tahu pemangku kepentingan Anda bahwa ini adalah batas kami, dan ini adalah yang dapat kami lakukan," kata Feisal.

Strategi alokasi aset Khazanah dirancang untuk menyeimbangkan kedua mandat tersebut. Sebanyak 60 persen aset ditempatkan di dalam negeri dengan fokus pada sektor-sektor yang memberikan dampak langsung bagi pembangunan, seperti konektivitas penerbangan, utilitas, dan transisi energi.

Sementara itu, investor global mendorong Danantara untuk membuka akses investasi seluas-luasnya bagi mitra asing. Mereka meyakini keterbukaan ini akan mengkatalisasi pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang kerja yang masif.

"Saya pikir saat ini adalah waktu bagi Danantara untuk mulai melihat membawa mitra. Itu tidak harus investor asing, bisa perusahaan sektor swasta lokal, bisa internasional," kata Hazem Ben-Gacem, Founder dan CEO BlueFive Capital.

Ben-Gacem menekankan, untuk meningkatkan nilai aset menjadi dua hingga tiga triliun dolar dalam dekade mendatang, partisipasi modal dan keahlian asing sangat dibutuhkan. Caranya, dengan membuka kepemilikan sejumlah aset strategis kepada investor dan operator kelas dunia.

Lepaskan saja. Biarkan skema bisnis. Biarkan investor asing mengambilnya. Biarkan operator kelas dunia terbaik di seluruh dunia memiliki bisnis-bisnis itu," ujarnya.

Dampaknya, menurut Ben-Gacem, akan sangat signifikan. Kesuksesan pengelolaan aset oleh pihak terbaik tidak hanya akan mendongkrak PDB, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi 280 juta penduduk Indonesia.
 
aku pikir kalau dana kekayaan negara harus diinvestasikan dengan bijak, tapi gak boleh begitu saja, kudu ada batas yang jelas ya? kalau biar tidak terjadi kebingungan dan semua orang tahu apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah. misalnya, 60 persen aset diinvestasikan di dalam negeri untuk pembangunan infrastruktur, itu bagus banget! tapi gak boleh lupa juga ada investor global yang mau berbagi kemampuan mereka, itu juga penting. kayaknya pemerintah harus mencari keseimbangan antara kedua hal ini, jadi bisa mendapatkan keuntungan dan memberikan manfaat bagi rakyat. ๐Ÿค‘๐Ÿ“ˆ
 
Aset negara itu seperti tanah yang boleh dikembalikan lagi ๐ŸŒฑ! Jika kita bisa menemukan keseimbangan antara investasi komersial dan pembangunan, pasti akan sangat baik ๐Ÿ’ช. Saya pikir 60 persen aset di dalam negeri adalah langkah yang tepat untuk membantu pembangunan, tapi tidak boleh lupa investor global juga perlu ikut berbagi ๐Ÿค. Biarkan investor asing dan operator kelas dunia terbaik mengambil bagian dalam bisnis-bisnis strategis kita, pasti akan membuat lapangan kerja berkualitas di Indonesia ๐Ÿš€. Saya harap pihak yang berwenang bisa menemukan solusi yang tepat untuk mengatur batasan antara mandat investasi komersial dan pembangunan ๐Ÿ’ก. Maka dari itu, saya ayo kita semua bersatu dan mendukung upaya ini ๐Ÿ˜Š #AsetNegara #Pembangunan #Investasi #IndonesiaBangkit
 
Mau dipikirin banget ari strategi ini... Kalau mau diatur dan tidak bisa berinvestasi apa pun lagi, mungkin ada rasa ketidakpastian. Tapi kalau mau terbuka lebar untuk investor asing, maka ada risiko juga kalau aset-aset kita jadi sasaran dari orang-orang yang tidak kompeten. Nah, kalau mau diatur tapi terbuka lebar juga, misalnya dengan pemerintah sebagai agen pembangunan, maka harus ada tangan yang kuat untuk mengawasi agar tidak salah. ๐Ÿค”
 
Aku pikir kalau harusnya ada batasan yang jelas tentang investasi dan pembangunan. Jadi gak terjadi kebingungan di dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya seperti bagaimana investasinya harus fokus pada sektor-sektor mana untuk memberikan dampak bagi pembangunan. Aku rasa kalau ada batasan yang jelas, tentu saja akan lebih mudah untuk mengatur strategi alokasi aset dan menentukan siapa yang bisa berinvestasi.

Aku juga pikir penting banget bagaimana investor global harus memperhatikan kebutuhan lokal. Jika mau investor asing ingin membuka akses investasi, pasti ada batasan yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Misalnya seperti bagaimana investasinya harus fokus pada sektor-sektor yang bisa memberikan dampak bagi pembangunan dan tidak hanya fokus pada untung-untungan saja.

Aku rasa kalau ada kerja sama yang baik antara pemerintah, investor global, dan masyarakat lokal, pasti akan lebih sukses dalam mengelola aset dan meningkatkan nilai aset. Jadi gak perlu kita bingung-bingung tentang bagaimana cara mengelolanya. Kita bisa fokus pada bagaimana caranya meningkatkan nilai aset dan memberikan dampak bagi pembangunan yang positif bagi masyarakat. ๐Ÿ˜Š
 
Maksudnya apa sih? Kalau mau buka akses investasi untuk investor asing, kenapa harus biarkan mereka mengambil semua bisnis-bisnis strategis itu? Apa keuntungan dari itu? Hanya memberi peluang kerja bagi 280 juta orang Indonesia, tapi bagaimana kalau mereka tidak bisa membayar gaji? Maksudnya aku bukan anti investor asing, tapi harus ada batasan yang jelas sih. Kalau mau partisipasi modal dan keahlian asing, kenapa tidak dengan cara yang lebih bijak, seperti melibatkan investor asing dalam proyek-proyek pembangunan yang sudah ada dan bisa diarahkan terhadap sektor-sektor yang paling penting. Tidak perlu sembarangan akses investasi, harus ada prioritas dan disiplin sih. ๐Ÿค”
 
Aset-aset negara itu seperti warisan dari generasi sebelumnya, tapi kira-kira apa yang kita lakukan dengan warisan itu? Apakah kita hanya membiarkannya berpuas diri sendiri di dalam genggaman pemerintah ataukah kita memberi tahu investor asing untuk mengambil alih dan membawanya ke arah yang lebih baik? Ada artinya jika kita meneruskan strategi yang sama, maka apa yang akan terjadi lagi dengan ekonomi Indonesia?
 
gampang banget aja kaya gini, semua orang terburu-buru ingin kaya dan sukses tanpa harus bekerja keras loh... ๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ apa yang salah dengan pemerintah kalau mereka mau berbagi kekayaan negara dengan investor asing? kayaknya tidak masalah kalau kita membiarkan operator kelas dunia mengambil alih aset-aset strategis, apa yang penting adalah lapangan kerja berkualitas dan pertumbuhan ekonomi ๐Ÿ“ˆ
 
asalnya mau dipikirin nggak, tapi sekarang aku pikir SWF Malaysia udah benar2 bijak nih... kapan aja kita harus tekan investor asing agar tidak hanya saja berinvestasi? kalo jadi seperti itu, apa artinya pemerintah udah ngelola aset dengan baik? kita udah kehilangan potensi dari investor asing yang bisa memberikan modal dan teknologi untuk meningkatkan infrastruktur dan ekonomi. tapi kalau dijamin semua aset itu bisa digunakan oleh operator kelas dunia, gimana caranya? kayaknya kita harus cermati lebih baik sebelum memutuskan...
 
hehe, aku pikir kalau giliran kita Indonesia yang harus mengajukan saran seperti itu. aku rasa perlu kita coba batasi intervensi negara dalam pengelolaan dana kekayaan negara, biar tidak ada kesalahpahaman. tapi aku ragu-ragu apakah kita harusnya membuka akses investasi bagi investor asing, tapi aku pikir kalau ada cara di mana kita bisa menerima manfaat dari itu tanpa harus menyerahkan banyak kekuasaan. aku rasa partisipasi modal dan keahlian asing memang dibutuhkan untuk meningkatkan nilai aset menjadi dua hingga tiga triliun dolar dalam dekade mendatang, tapi kita harus pastikan agar investor asing tidak hanya saja mengambil keuntungan tanpa memberi kontribusi yang signifikan. ๐Ÿค”
 
Gampang saja, kalau mau terus membiarkan investor asing menabung aset dan bisnis kita di tangan mereka, kayaknya kita akan menjadi semakin kalah dalam kompetisi global. Kalau mau jadi semakin sukses, kita harus memiliki kontrol sendiri atas strategi investasi dan pengelolaan dana kekayaan negara.
 
Saya pikir ini konsep yang benar untuk meningkatkan nilai aset kita ๐Ÿค‘. Jika investor asing bisa membawa keahlian dan modal mereka untuk membantu pengelolaan aset kita, maka itu akan sangat membantu. Tapi, harus diingat juga bahwa kita harus tidak melepas kendali kita sendiri ๐Ÿ™…โ€โ™‚๏ธ. Kita harus memastikan bahwa investor yang datang ke Indonesia memiliki komitmen untuk membantu pembangunan kita, bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan ๐Ÿ’ธ. Dan tentu saja, kita harus juga memastikan bahwa ada transparansi dan ketepatan dalam pengelolaan aset kita ๐Ÿ“. Jika semua hal itu bisa terlaksana, maka saya pikir kita bisa mencapai target nilai aset yang diinginkan ๐ŸŽ‰.
 
ya, kalau mau tahu jawabannya siapa yang mau meminjam uang asing itu kan? toh khususnya investor asing yang suka ngomong-momong mengatur bisnis kita, dan memanggil kita nggak bisa berdiri sendiri ya? mereka ini kayak gila, mau di Indonesia sih? kalau mau jadi pengusaha lokal sih, kan ada banyak sekali yang sudah lulus dan berhasil ngomong-momong seperti itu sejak dulu. tapi siapa tahu, malah baik juga lah kalau investor asing mau memainkan peran "pemangku kepentingan" mereka sih, karena kayaknya kita jadi pasif dan nggak bisa berkomunikasi dengan mereka sih...
 
Saya penasaran deh bagaimana hal ini bisa berjalan sebenarnya ๐Ÿค”. Ada yang bilang bahwa harus ada batasan tapi ada juga yang bilang semakin terbuka, semakin banyak investor asing masuk. Saya pikir apa yang penting adalah ada strategi yang jelas, tapi sampai di mana sekarang strategi itu gampang untuk dipahami? ๐Ÿคฏ

Saya suka kayaknya jika diadopsi pendekatan "everything in moderation" (semua dalam keseimbangan). Jadi, tidak hanya 60% aset yang ditempatkan di dalam negeri, tapi juga ada bagian yang bisa dimanfaatkan oleh investor global ๐ŸŒŽ. Saya pikir itu akan membuat strategi lebih masuk akal dan jelas.

Dan, wajahnya apa sih jika berhasil? ๐Ÿคฉ Jika bisa meningkatkan nilai aset menjadi dua hingga tiga triliun dolar dalam dekade mendatang, itu berarti banyak lapangan kerja yang bisa dibuat. Dan itu tentu saja sangat baik bagi 280 juta penduduk Indonesia ๐Ÿ˜Š.
 
Kalau mau coba batasi investasi negara itu nggak sabarnya? Apa ada yang salah sama sekali dengan strategi yang sudah ada? Nah, aku pikir kalau mau dibuka akses investasi lebih luas itu juga bisa jalan. Tapi harus ada keseimbangan ya. Jangan sampai kebijakan ini berubah menjadi pelarian uang.
 
kembali
Top