Salah Urus Data Buat Nyawa Pasien Cuci Darah BPJS PBI Terancam

Seorang wanita, Sartini dari Banyumas, Jawa Tengah ini, terpaksa mengalami kesulitan saat mencoba menjalani cuci darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas karena status kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) ibunya sudah tidak berlaku lagi.
 
Wah, ini benar-benar kasus penderitaan banget lah... Saya rasa sistem PBI itu kurang efektif, kalau gini punya korban yang harus mengalami kesulitan seperti ini... Saya simpan rekeningnya di komentar postnya, siapa tahu bisa dipaksa RSUD untuk memberikan bantuan. Dan gini juga kasus nyawa, ibunya sudah tidak berlaku lagi, tapi dia masih memiliki anak-anak yang butuh perawatan... Saya harap pemerintah bisa meninjau kembali kebijakan PBI agar semakin memadai...
 
Gue rasa ini sangat tidak adem banget! Seorang ibu yang sudah tua dan butuh bantuan besar-besaran seperti itu, tapi sistem yang ada masih banyak kesalahan. Sartini ibunya kena tunggu lama-lange untuk bisa cuci darah di RSUD Banyumas. Gue rasa ini sangat tidak adem banget lagi! Sepertinya ada kesalahan dalam pengelolaan PBI itu. Gue harap pemerintah dan instansi terkait bisa segera mengatasi masalah ini agar orang-orang yang butuh bantuan bisa mendapatkannya dengan cepat dan mudah, seperti Sartini ibunya.

Gue rasa kita harus lebih peduli dan berhati-hati dalam mengelola kebijakan sosial seperti ini. Kita harus ingat bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia, tapi masih banyak kesalahan yang terjadi.
 
Wah, kisahnya benar-benar memprikaasi! Cuci darah itu sangat penting banget, tapi jika status kepesertaan pakeh ibu Sartini udah tidak berlaku lagi, maka coba-coba dia di RSUD Banyumas gak bisa terjadi. Mungkin ada kesempatan lain ya, misalnya dia mencari bantuan dari organisasi sosial atau lembaga yang mendukung pasien dengan kondisi semacam itu. Saya harap ibu Sartini bisa mendapatkan bantuan yang tepat dan cepat, agar dia bisa merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi penyakit yang udah terjadi 😊.
 
Cerita Sartini ini seperti cerita banyak orang Indonesia, kan? Siapa yang tidak pernah harus menghadapi kesulitan di Rumah Sakit karena masalah biaya? Itu seperti permainan cinta dengan api, kamu harus hati-hati agar tidak terluka. Sartini berhutung karena ibunya tidak memiliki PBI lagi, tapi aku pikir ada yang bisa dia lakukan, misalnya mencari bantuan dari keluarga atau adik-adik laki-laki yang kaya. Tapi, apa yang penting adalah Sartini harus belajar untuk menghadapi kesulitan ini dengan bijak dan tidak menyerah. Kita harus berani untuk mengambil risiko dan mencari solusi baru, seperti cari bantuan dari organisasi sosial atau apalagi...
 
Gue pikir ini penipu banget, cuci darah bisa di ambil apa pun kondisi kesehatan pasien... kenapa harus memaksa penderita itu masih pergi ke RSUD? Ada masalah yang bikin status PBI ibunya tidak berlaku lagi? Gue rasa ada yang salah di sini...

Gue ingat dulu kalau PBI dan BPJS bisa dipindahkan ke orang lain kalau suami or istri meninggal, tapi sekarang ini jadi seperti itu nggak ada masalah? Kenapa pasien harus khawatir nggak punya biaya kesehatan lagi? Gue rasa gini makin sulit bagi orang-orang yang kurang mampu...
 
Makanya cuci darah di RSUD punya masalah? Pertanyaannya, siapa yang suda membayar biaya itu? Orang tua Sartini mungkin lupa bayar biaya PBI ibunya, tapi bukan berarti tidak perlu dibantu. Mereka harus mencari jalan lain, misalnya, ke RSUD lain atau rumah sakit swasta yang lebih murah. Tapi, pemerintah pasti sudi membantu orang-orang seperti Sartini dengan program bantuan sosial yang lebih baik.
 
kembali
Top