Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud) di akhir tahun 2019 memutuskan untuk menghentikan pengadaan laptop Chromebook bagi sekolah-sekolah di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Penyebab keputusan tersebut adalah hasil survei yang dilakukan oleh Kemendikbud. Dalam kesaksiannya, Gogot Suharwoto, mantan Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom), mengungkapkan bahwa ada empat faktor yang membuat penggunaan Chromebook di daerah 3T kurang efektif.
Ketiga faktor pertama, kedua, dan keempat ini adalah koneksi internet, antarmuka (interface) Chromebook, kemampuan untuk menjalankan ujian nasional Berbasis Komputer (UNBK), dan kemampuan untuk meng- install aplikasi tambahan di luar ekosistem Google.
"Koneksi internet saat ini banyak sekali yang tidak stabil, khususnya di daerah 3T. Karena itu, kita merasa bahwa Chromebook bukanlah pilihan terbaik," kata Gogot.
Kemudian, Gogot juga menyebutkan bahwa antarmuka (interface) Chromebook bukanlah sesuatu yang familiar bagi guru-guru dan tenaga pendidik. Hal ini membuat mereka kesulitan dalam menggunakan perangkat tersebut.
Selain itu, ujian nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tahun 2019 belum bisa digunakan dengan Chromebook karena tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan aplikasi tersebut.
Terakhir, kemampuan untuk meng-install aplikasi tambahan di luar ekosistem Google juga terbatas. Contohnya adalah aplikasi Data Pokok Pendidikan yang sangat krusial bagi administrasi sekolah, tetapi tidak dapat berjalan di sistem operasi Chromebook.
"Jadi, 4 alasan itu yang membuat kita di Oktober 2019 kita stop menggunakan Chromebook. Tampaknya Windows semua," kata Gogot.
Ketiga faktor pertama, kedua, dan keempat ini adalah koneksi internet, antarmuka (interface) Chromebook, kemampuan untuk menjalankan ujian nasional Berbasis Komputer (UNBK), dan kemampuan untuk meng- install aplikasi tambahan di luar ekosistem Google.
"Koneksi internet saat ini banyak sekali yang tidak stabil, khususnya di daerah 3T. Karena itu, kita merasa bahwa Chromebook bukanlah pilihan terbaik," kata Gogot.
Kemudian, Gogot juga menyebutkan bahwa antarmuka (interface) Chromebook bukanlah sesuatu yang familiar bagi guru-guru dan tenaga pendidik. Hal ini membuat mereka kesulitan dalam menggunakan perangkat tersebut.
Selain itu, ujian nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tahun 2019 belum bisa digunakan dengan Chromebook karena tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan aplikasi tersebut.
Terakhir, kemampuan untuk meng-install aplikasi tambahan di luar ekosistem Google juga terbatas. Contohnya adalah aplikasi Data Pokok Pendidikan yang sangat krusial bagi administrasi sekolah, tetapi tidak dapat berjalan di sistem operasi Chromebook.
"Jadi, 4 alasan itu yang membuat kita di Oktober 2019 kita stop menggunakan Chromebook. Tampaknya Windows semua," kata Gogot.