Saksi Kasus Noel Ungkap Duit Pemerasan K3 Dibagi-bagi Sampai Level Direktur

Saksi Kasus Pemerasan Sertifikasi K3, Amarudin Berkata: "Dibagi Begitu"

Di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jaksa menyajikan saksi yang berbicara tentang praktik pemerasan pengurusan sertifikasi K3. Bapak Amarudin menjelaskan bahwa dia merupakan mantan Koordinator Substansi Kelembagaan Pelayanan Kesehatan Kerja Direktorat BK3 di Kemnaker.

Menurut Bapak Amarudin, uang hasil pemerasan pengurusan sertifikasi K3 dibagi begitu sampai level direktur. Dibagikan begitu itu berarti uang tersebut dibagi secara seimbang dan tidak ada kesepakatan angka persentase yang jelas.

Amarudin menjelaskan bahwa dia membagikan uang kepada direktur, kemudian ke dokter Anita, dan terus ke teman-temannya sampai level pimpinan. Bapak Amarudin mengatakan tidak ada kesepakatan angka berapa persennya dalam pemberian uang ke direktur.

Jumlah pemberian uang ke direktur biasanya sebesar Rp 5-10 juta, tapi tidak ada persentase yang jelas. Bapak Amarudin mengatakan ini adalah praktik pemerasan pengurusan sertifikasi K3 yang sudah ada sejak tahun 2015.

Saksi tersebut juga menjelaskan bahwa setiap sertifikat dipatok tarif Rp 100-150 ribu, tapi nilai tersebut bisa berbeda tergantung PJK3. Bapak Amarudin mengatakan ini adalah kolom yang ada pada dokumen sertifikasi K3.

Amarudin menjelaskan bahwa dia tidak memaksakan tarif harus segini itu dan tidak ada kesepakatan tentang pemberian uang kepada direktur secara langsung. Dia hanya membantu proses pembagian uang tersebut karena pimpinan sudah mengetahui praktik ini.

Selain Bapak Amarudin, terdapat beberapa terdakwa lain dalam kasus ini, yakni Eks Wamemaker Immanuel Ebenezer (Noel), Fahrurozi, Hery Sutanto, Subhan, Gerry Aditya Herwanto Putra, Irvian Bobby Mahendro, Sekarsari Kartika Putri, Anitasari Kusumawati, Supriadi, Miki Mahfud, dan Termurila.
 
Aku rasa kasus ini sebenarnya tidak terlalu parah, kan? Bapak Amarudin itu hanya membantu proses pembagian uang karena pimpinan sudah tahu praktik ini, jadi tidak ada yang salahnya. Uang itu dibagi begitu untuk level direktur dan dokter Anita, tapi siapa bilang itu tidak adil? Aku rasa kasus ini lebih kepada kesalahpahaman daripada sesuatu yang benar-benar jahat 😊. Dan aku pikir kalau kita harus membela orang-orang dalam kasus ini, kita juga harus mempertimbangkan bahwa mereka mungkin hanya melakukan apa yang dipernya. Tapi, aku tidak punya bukti apa-apa, jadi aku cuma berbagi pendapatku sendiri 🤔.
 
Wahhh... Kasus ini bikin aku penasaran banget! Makanya harus ada saksi yang bisa bercerita tentang apa yang terjadi di balik dinding. Tapi yang paling penting, siapa dia yang punya uang itu?! 🤑👀 Aku rasa dia yang paling muntah adalah direktur yang dibagikan uangnya sebesar Rp 5-10 juta! 😱 Seperti apa sih? Apakah dia yang benar-benar membutuhkannya? 🤔
 
Aku pikir ini lagi kasus korupsi di pemerintahan sekolah kita. Bisa jadi ada beberapa orang yang mau memanfaatkan sistem untuk mendapatkan uang banyak. Tapi, apa yang penting adalah bagaimana hal ini dapat mencegah pengurusan sertifikasi K3 menjadi lebih efisien dan tidak berantai.
 
aku pikir ini sangat serius banget, tapi juga harus diingat bahwa ada banyak korupsi yang sudah terjadi sejak lama, jadi bukan pertama kali kayak gini terjadi 🤦‍♂️. aku rasa orang-orang harus berani bicara dan memberikan saksi untuk menangkap siapa-siapa yang terlibat dalam kasus ini. tapi juga harus diingat bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi, seperti tekanan dan hambatan dalam proses pembagian uang. mungkin ada cara lain untuk mengatasi masalah ini tanpa harus membuat banyak korupsi, misalnya dengan membuat sistem yang lebih transparan 🤔.
 
Gak bisa percaya banget dengar kasus ini 😱. Tapi aku pikir ini adalah contoh bagaimana sistem K3 di Indonesia masih belum optimal. Aku rasa pengadilan harus fokus pada mengatasi praktik pemerasan yang sudah ada sejak tahun 2015 ini, bukan hanya menangkap terdakwa.

Aku rasa ada kesempatan besar untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pengurusan sertifikasi K3. Jangan sampai kita tetap menggunakan sistem yang sama, tapi dengan hasil yang berbeda 🤦‍♂️. Aku harap pengadilan dapat membantu mengubah praktik ini menjadi sesuatu yang lebih baik, sehingga semua pihak dapat mendapatkan keuntungan dari sistem tersebut, bukan hanya sedikit-sedikit 🔥.
 
Ulek... kasus ini makin seru banget! Semua orang penting tapi hasil uangnya dibagi begitu? Maksudnya, direktur saja yang mendapatkan sebagian besar uang, sementara dokter Anita dan teman-temannya saja yang mendapatkan kecil-kecilan. Ini seperti permainan uang dengan tidak adanya kerjasama sama-sama. Dan apa dengan tarif sertifikasi K3? Semua sesuatu ini serupa. Kasus ini harus dibangun lebih jelas lagi. 🤔💡
 
kembali
Top