Saksi: Jual Solar di Bawah Bottom Price Belum Tentu Rugi

Pertamina Patra Niaga mengatakan bahwa penjualan solar di bawah harga bottom price tidak secara otomatis menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Harga yang ditawarkan adalah sebagai acuan untuk kontrak jangka panjang, bukan hanya dua minggu.

"Kontrak jangka panjang adalah komitmen dengan konsumen. Tidak relevan jika kontrak jangka panjang harus terus-menerus mengacu pada bottom price yang berubah setiap dua minggu. Yang paling penting, harga jual harus tetap di atas Cost of Goods Sold (COGS) agar perusahaan tidak rugi," kata Taufiq.

Dalam industri BBM yang sangat kompetitif dengan lebih dari 160 pesaing, menjaga market share atau pangsa pasar adalah kunci keberlangsungan bisnis. Harga yang kompetitif diberikan untuk mempertahankan volume penjualan.

"Ada di Indonesia ini lebih dari 100 badan usaha yang memiliki izin untuk menjual BBM industri saingannya ada. Saingannya PT PPN yang melakukan penjualan solar itu (sekitar) sampai 160 perusahaan, saya lupa angka persisnya," kata Dimas.

Data yang disajikan Nur Amalia Lubis membeberkan bahwa meskipun ada fluktuasi harga per transaksi, secara keseluruhan atau agregat, segmen industri tetap mencatatkan laba. Rata-rata keuntungan PT PPN masih berada di kisaran 102 persen hingga 106 persen dibandingkan dengan revenue.

"Secara perusahaan, kinerjanya bagus dan menerima laba," tegas Nur Amalia.

Pertamina Patra Niaga juga memastikan proses penentuan harga dilakukan sesuai prosedur tanpa adanya intervensi dari atasan direksi.

"Tidak pernah ada intervensi. Semua proses dilakukan sesuai SOP, tata kelola, dan otorisasi yang ada di perusahaan. Kami bekerja secara independen sesuai deskripsi pekerjaan," jelas Taufiq.

Fakta persidangan menunjukkan tidak adanya perbuatan melawan hukum maupun kerugian negara akibat perbuatan Riva Siahaan, Maya Kusmaya, dan Edward Corne. Sebaliknya, kebijakan yang diambil justru disebut menghasilkan penghematan impor bahan bakar minyak (BBM) sebesar 26 juta dolar Amerika Serikat (AS) serta keuntungan masing-masing 1,4 miliar dolar AS dan 1,2 miliar dolar AS dari penjualan solar non-subsidi pada tahun 2022 dan 2023.
 
Saya pikir strategi PT PPN yang membagi pasar menjadi dua bagian adalah cara cerdas banget. Jadi ada satu bagian yang lebih kompetitif, jadi harga murah, dan ada satu bagian lainnya yang masih bisa menikmati laba besar. Kalau tidak begitu, saya bayangin kalau bisnisnya bakal rugi nanti.
 
ada yang pikir ini Riva Siahaan jadi korban sendiri karena kerugian Pertamina Patra Niaga aja? kalau sebenarnya Pertamina itu sudah menang dengan keuntungan besar dari penjualan solar non-subsidi, tapi siapa tau ada yang tak puas dengan hasilnya, mungkin Riva Siahaan jadi target aja 🤔
 
Saya pikir poin penting disini adalah Pertamina Patra Niaga tidak terlalu memikirkan strategi pengelolaan risiko ketika menawarkan harga solar yang kompetitif. Mereka lebih fokus pada penjualan volume daripada laba per transaksi 🤑. Namun, saya rasa konsep ini masih bagus banget. Dengan demikian, Pertamina Patra Niaga bisa meningkatkan market share dan menjaga posisi yang stabil di pasar BBM 🔥. Saya juga ingin mencoba penggunaan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu perusahaan dalam proses penentuan harga, sehingga mereka bisa lebih efisien dan tepat waktu 🤖
 
Gue pikir kalau harga solar itu kan bisa ditingkatkan lagi ya? kalau konsumen mau banyak banget, maka toko punya opsi untuk menawarkan dengan harga yang lebih tinggi. tapi gue tahu juga bahwa Pertamina Patra Niaga jauh dari kehilangan uang karena ada peraturan tentang COGS yang harus dijalankan. tapi siapa tau jika mereka mau bereksperimen dengan harga solar, misalnya dengan menawarkan promo atau diskon khusus untuk konsumen. itu bisa bikin banyak lagi orang tertarik untuk membeli produk solar dari mereka 😊
 
Pertamina Patra Niaga bilang tidak ada kerugian karena harga yang ditawarkan, tapi aku pikir ini masih salah paham. Kalau kontrak jangka panjang harus diakui berubah-ubah biaya COGS, maka harga penjualan juga harus fleksibel. Tapi sayangnya di Indonesia ini masih banyak perusahaan yang tidak ingin melepaskan keuntungan dengan menawarkan harga yang lebih tinggi. Sementara itu, aku rasa Pertamina Patra Niaga harus fokus pada efisiensi dan reduksi biaya produksi, bukan hanya menjaga market share. Misalnya, menghemat energi dan optimalkan infrastruktur. Kalau bisa dihemat biaya, maka penjualan solar juga akan lebih kompetitif di pasar.
 
kalau mau tahu benar-benar harga jual apa sih, gak perlu memikirkan lagi karena sudah ada bottom price. tapi kira-kira kontrak panjang itu buat apa sih kalau harus terus mengacu pada harga yang berubah setiap dua minggu? apa sih yang penting itu? tidak relevan ya...
 
Gue rasa kalau kontrak jangka panjang itu penting banget untuk PT PPN. Kalau tidak ada kontrak jangka panjang, gue kira konsumen akan malas numpang tindakan dari peteon lain yang punya harga yang lebih kompetitif. Nah, sekarang kalau mereka sudah ada kontrak jangka panjang, maka mereka bisa fokus pada proses produksi dan tidak perlu khawatir dengan harga yang turun-turun. Jadi, gue rasa penjelasan dari PT PPN tentang apa itu kontrak jangka panjang benar-benar sesuai dengan rencana bisnis mereka. 🤔
 
aku pikir apa yang mereka lakukan itu gampang banget bro 🤔. kontrak jangka panjang dan harga bottom price, kalau bisa dipakai sebagai acuan, tapi apakah benar-benar tidak ada intervensi dari atas? aku pikir ada yang salah di sini... biar apa karna ada banyak perusahaan yang menjual BBM dengan harga kompetitif, tapi siapa nanti yang rugi kalau harga turun terus-menerus? 🤷‍♂️
 
kembali
Top