Kematian Saif al-Islam, putra Muammar Khadafi yang paling berpengaruh, dilaporkan terjadi dalam kontak senjata di Zintan. Insiden itu mengakhiri hidupnya dalam ledakan tembak. Kantor politiknya menyatakan bahwa dia dibunuh setelah empat pria bersenjata menyerbu rumahnya dan menonaktifkan kamera pengawas, kemudian melepaskan tembakan.
Penyelidikan terkait pembunuhan tersebut sedang berlangsung. Sebelumnya, Saif al-Islam terus memperjuangkan kekuasaan di Libya setelah pemberontakan 2011. Ia banyak kali menyerang demonstran dan mengancam adanya perang saudara.
Pada beberapa hari sebelum kematian, sebuah rekaman audio terdaftar secara online yang dipercaya oleh para pendukungnya sebagai pesan terakhir dari Saif al-Islam. Dalam rekaman tersebut, ia memberikan kritik mendalam tentang tatanan politik Libya pasca-2011.
Sebelum menjadi tokoh oposisi di Libya, Saif al-Islam dikenal sebagai wajah modern rezim ayahnya yang memiliki pendidikan Barat dan fasih berbahasa Inggris. Ia dipercaya memainkan peran sentral dalam negosiasi terkait perlucutan senjata nuklir dan kompensasi bagi korban pemboman Lockerbie.
Sebelum terjadi insiden ini, pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa Saif al-Islam meninggal karena luka tembak. Pada saat ini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas kematian tersebut dan masih berlangsung penyelidikan untuk mengidentifikasi tersangka dan memperesmikannya kasus pidana.
Keluarga dan para pendukungnya masih dalam ketakutan setelah kejadian itu.
Penyelidikan terkait pembunuhan tersebut sedang berlangsung. Sebelumnya, Saif al-Islam terus memperjuangkan kekuasaan di Libya setelah pemberontakan 2011. Ia banyak kali menyerang demonstran dan mengancam adanya perang saudara.
Pada beberapa hari sebelum kematian, sebuah rekaman audio terdaftar secara online yang dipercaya oleh para pendukungnya sebagai pesan terakhir dari Saif al-Islam. Dalam rekaman tersebut, ia memberikan kritik mendalam tentang tatanan politik Libya pasca-2011.
Sebelum menjadi tokoh oposisi di Libya, Saif al-Islam dikenal sebagai wajah modern rezim ayahnya yang memiliki pendidikan Barat dan fasih berbahasa Inggris. Ia dipercaya memainkan peran sentral dalam negosiasi terkait perlucutan senjata nuklir dan kompensasi bagi korban pemboman Lockerbie.
Sebelum terjadi insiden ini, pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa Saif al-Islam meninggal karena luka tembak. Pada saat ini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas kematian tersebut dan masih berlangsung penyelidikan untuk mengidentifikasi tersangka dan memperesmikannya kasus pidana.
Keluarga dan para pendukungnya masih dalam ketakutan setelah kejadian itu.