Harga saham Bank Central Asia (BBCA) terus mengalami penurunan, bahkan dalam satu hari hanyalah 1,96 persen. Hal ini membuat investor merasa tidak nyaman dan malah berpikir untuk menjual sahamnya. Menurut Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA, hal ini disebabkan oleh sentimen global yang mempengaruhi harga saham.
Pemerolehan saham 70-80 persen oleh investor asing membuat pergerakan harga saham sangat dipengaruhi oleh situasi global. Oleh karena itu, Hendra menyatakan bahwa prospek ekonomi Indonesia juga menjadi faktor utama yang diperhatikan oleh investor global dalam mengambil keputusan terkait saham BCA.
"Sulit untuk menjawab saatnya beli (saham BBCA) atau tidak karena tergantung asing melihat prospek ekonomi kita (Indonesia)," ujar Hendra. Oleh karena itu, pergerakan harga saham menjadi sangat kompleks dan sulit diprediksi.
Meski harga saham fluktuatif, manajemen BCA tetap berfokus untuk memastikan kinerja operasional perusahaan berjalan sebaik mungkin. Hendra menekankan bahwa proses ini tidak akan berubah dengan harga saham yang terus mengalami penurunan.
Pemerolehan saham 70-80 persen oleh investor asing membuat pergerakan harga saham sangat dipengaruhi oleh situasi global. Oleh karena itu, Hendra menyatakan bahwa prospek ekonomi Indonesia juga menjadi faktor utama yang diperhatikan oleh investor global dalam mengambil keputusan terkait saham BCA.
"Sulit untuk menjawab saatnya beli (saham BBCA) atau tidak karena tergantung asing melihat prospek ekonomi kita (Indonesia)," ujar Hendra. Oleh karena itu, pergerakan harga saham menjadi sangat kompleks dan sulit diprediksi.
Meski harga saham fluktuatif, manajemen BCA tetap berfokus untuk memastikan kinerja operasional perusahaan berjalan sebaik mungkin. Hendra menekankan bahwa proses ini tidak akan berubah dengan harga saham yang terus mengalami penurunan.