Rupiah menguat ke level Rp16.936 per dolar AS, di level tertinggi dalam periode ini, akibat langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level L 4,75 persen pada RDG BI 20-21 Januari 2026.
Pengamat ekonomi mengatakan, kebijakan BI berdampak positif terhadap rupiah. Rupiah ditutup menguat sebesar 20 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.956.
"Dengan suku bunga yang stabil ini, kita bisa mendapatkan efektivitas transmisi moneter dan makroprudensial yang lebih baik," kata Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi. "Keputusan ini konsisten menjaga Rupiah di tengah ketidakpastian global dengan memperkuat efektivitas transmisi moneter dan makroprudensial untuk jaga stabilitas dan dorong ekonomi ke depan."
Meski suku bunga ditahan, ruang untuk pelonggaran moneter tetap terbuka. BI telah menegaskan bahwa penurunan suku bunga dimungkinkan dengan catatan inflasi tahun ini terkendali di sekitar sasaran 4,5 persen plus minus 1 persen.
Pemerintah juga meluncurkan kebijakan fiskal ekspansif untuk memacu pemulihan ekonomi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelebaran defisit APBN 2025 menjadi 2,92 persen adalah kebijakan kontra-siklus yang disengaja untuk memacu pemulihan ekonomi.
Namun, ketegangan geopolitik dan perdagangan global masih menjadi faktor risiko. Investor tetap berhati-hati karena presiden AS Donald Trump bersikeras pada sikapnya mengenai Greenland dan mengancam tarif terhadap negara-negara Eropa.
Pengamat ekonomi mengatakan, kebijakan BI berdampak positif terhadap rupiah. Rupiah ditutup menguat sebesar 20 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.956.
"Dengan suku bunga yang stabil ini, kita bisa mendapatkan efektivitas transmisi moneter dan makroprudensial yang lebih baik," kata Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi. "Keputusan ini konsisten menjaga Rupiah di tengah ketidakpastian global dengan memperkuat efektivitas transmisi moneter dan makroprudensial untuk jaga stabilitas dan dorong ekonomi ke depan."
Meski suku bunga ditahan, ruang untuk pelonggaran moneter tetap terbuka. BI telah menegaskan bahwa penurunan suku bunga dimungkinkan dengan catatan inflasi tahun ini terkendali di sekitar sasaran 4,5 persen plus minus 1 persen.
Pemerintah juga meluncurkan kebijakan fiskal ekspansif untuk memacu pemulihan ekonomi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelebaran defisit APBN 2025 menjadi 2,92 persen adalah kebijakan kontra-siklus yang disengaja untuk memacu pemulihan ekonomi.
Namun, ketegangan geopolitik dan perdagangan global masih menjadi faktor risiko. Investor tetap berhati-hati karena presiden AS Donald Trump bersikeras pada sikapnya mengenai Greenland dan mengancam tarif terhadap negara-negara Eropa.