Rupiah Terlihat Menguat Seiring dengan Pelemahan Indeks Dolar, BI Juga Mendukungnya.
Pada Senin (26/1/2026), nilai tukar rupiah terlihat menguat seiring dengan pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan pagi ini, rupiah terbuka di Rp16.784 per dolar AS, naik dari sebelumnya Rp16.820.
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah terjadi karena pelemahan indeks dolar. Bahkan, pada paruh awal sesi perdagangan, penurunan tajam hingga mendekati level terendah harian di Rp16.755.
Namun, menurut Ibrahim, stabilitas nilai tukar rupiah di pasar valuta asing juga disokong oleh Bank Indonesia (BI). Bahkan, BI terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan berbagai strategi.
Pada hari ini mata uang Garuda diperkirakan akan fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp16.820-Rp16.850. Sedangkan dalam sepekan ke depan nilai tukar rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp16.790-Rp17.000.
Selain itu, IMF juga menilai pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto. Artinya, secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar dengan pergerakan rupiah yang signifikan selama episode tekanan eksternal terbaru.
Untuk mengelola volatilitas nilai tukar rupiah, BI telah menerapkan intervensi valuta asing. Sementara, IMF menilai intervensi seharusnya dilakukan melalui berbagai instrumen mulai dari pasar spot valuta asing hingga intervensi non-deliverable forward di luar negeri.
Namun demikian, IMF menekankan intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur.
Pada Senin (26/1/2026), nilai tukar rupiah terlihat menguat seiring dengan pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan pagi ini, rupiah terbuka di Rp16.784 per dolar AS, naik dari sebelumnya Rp16.820.
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah terjadi karena pelemahan indeks dolar. Bahkan, pada paruh awal sesi perdagangan, penurunan tajam hingga mendekati level terendah harian di Rp16.755.
Namun, menurut Ibrahim, stabilitas nilai tukar rupiah di pasar valuta asing juga disokong oleh Bank Indonesia (BI). Bahkan, BI terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan berbagai strategi.
Pada hari ini mata uang Garuda diperkirakan akan fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp16.820-Rp16.850. Sedangkan dalam sepekan ke depan nilai tukar rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp16.790-Rp17.000.
Selain itu, IMF juga menilai pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto. Artinya, secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar dengan pergerakan rupiah yang signifikan selama episode tekanan eksternal terbaru.
Untuk mengelola volatilitas nilai tukar rupiah, BI telah menerapkan intervensi valuta asing. Sementara, IMF menilai intervensi seharusnya dilakukan melalui berbagai instrumen mulai dari pasar spot valuta asing hingga intervensi non-deliverable forward di luar negeri.
Namun demikian, IMF menekankan intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur.