Rupiah Senin Pagi Menguat, Tetapi Mencari Titik Berhenti di Rp16.785 per Dolar AS
Rupiah rileks di perdagangan pagi ini, dengan nilai tukar sebesar Rp16.784 per dolar Amerika Serikat (AS), meningkat 59 poin atau 0,35 persen dari level sebelumnya Rp16.820 per dolar AS. Penguasaan rupiah ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar dan langkah Bank Indonesia (BI) yang menjaga stabilitas nilai tukar di pasar valuta asing.
Namun, mata uang Garuda diharapkan fluktuatif di hari ini, tetapi tetap melemah di rentang Rp16.820-Rp16.850 per dolar AS. Proyeksi nilai tukar rupiah untuk sepekan ke depan masih bergerak di kisaran Rp16.790-Rp17.000 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguasaan rupiah ini terjadi karena pelemahan indeks dolar dan langkah BI yang menjaga stabilitas nilai tukar di pasar valuta asing. Namun, IMF menilai bahwa pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto, sehingga perlu intervensi valuta asing untuk mengelola volatilitas nilai tukar rupiah.
Ibrahim juga menekankan bahwa intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur. "Artinya, secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar, dengan pergerakan rupiah yang signifikan selama episode tekanan eksternal terbaru," katanya.
Jika melihat dari perspektif teknis, nilai tukar rupiah masih mencari titik berhenti di Rp16.785 per dolar AS setelah melewati level tertinggi harian sebesar Rp16.755.
Rupiah rileks di perdagangan pagi ini, dengan nilai tukar sebesar Rp16.784 per dolar Amerika Serikat (AS), meningkat 59 poin atau 0,35 persen dari level sebelumnya Rp16.820 per dolar AS. Penguasaan rupiah ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar dan langkah Bank Indonesia (BI) yang menjaga stabilitas nilai tukar di pasar valuta asing.
Namun, mata uang Garuda diharapkan fluktuatif di hari ini, tetapi tetap melemah di rentang Rp16.820-Rp16.850 per dolar AS. Proyeksi nilai tukar rupiah untuk sepekan ke depan masih bergerak di kisaran Rp16.790-Rp17.000 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguasaan rupiah ini terjadi karena pelemahan indeks dolar dan langkah BI yang menjaga stabilitas nilai tukar di pasar valuta asing. Namun, IMF menilai bahwa pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto, sehingga perlu intervensi valuta asing untuk mengelola volatilitas nilai tukar rupiah.
Ibrahim juga menekankan bahwa intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur. "Artinya, secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar, dengan pergerakan rupiah yang signifikan selama episode tekanan eksternal terbaru," katanya.
Jika melihat dari perspektif teknis, nilai tukar rupiah masih mencari titik berhenti di Rp16.785 per dolar AS setelah melewati level tertinggi harian sebesar Rp16.755.