Rupiah yang lewat level krisis sebesar 98% ini memang benar-benar membuat perhatian kami. Nilai tukar rupiah baru saja mencetak rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah, yaitu melemah 0,15% ke level Rp16.880/US$. Posisi ini melampaui rekor sebelumnya pada 24 April 2025, ketika rupiah ditutup di Rp16.865/US$.
Dari total 10 hari perdagangan sepanjang tahun berjalan, rupiah hanya mampu menguat satu kali, sementara sisanya tertekan oleh penguatan dolar AS. Alhasil, secara year to date (YtD) rupiah telah melemah 1,26% terhadap greenback.
Tren pelemahan ini membawa sejumlah konsekuensi bagi perekonomian, mulai dari meningkatnya beban impor termasuk impor energi, hingga tekanan inflasi yang berujung pada penurunan daya beli masyarakat. Rupiah yang melemah akan lebih cepat menekan biaya produksi karena harga barang impor otomatis lebih mahal dalam rupiah.
Risiko lainnya adalah tekanan pada APBN, karena nilai pembayaran cicilan pokok dan bunga utang luar negeri pemerintah akan membengkak dalam rupiah. Hal ini berpotensi memperlebar defisit anggaran melalui kenaikan beban subsidi dan kompensasi energi.
Dunia usaha juga waspada, karena dampak pelemahan rupiah sangat bergantung pada struktur bisnis masing-masing. Perusahaan manufaktur yang banyak mengandalkan bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi yang signifikan. Sementara itu, perusahaan dengan utang dalam dolar tanpa lindung nilai (hedging) menghadapi risiko yang lebih berat karena nilai cicilan dan pokok utang melonjak dalam rupiah.
Akhirnya, pelemahan rupiah akan terasa di level rumah tangga melalui kenaikan harga barang dan jasa. Ketika biaya impor dan biaya energi naik, harga kebutuhan pokok dan barang konsumsi pun ikut meningkat.
Dari total 10 hari perdagangan sepanjang tahun berjalan, rupiah hanya mampu menguat satu kali, sementara sisanya tertekan oleh penguatan dolar AS. Alhasil, secara year to date (YtD) rupiah telah melemah 1,26% terhadap greenback.
Tren pelemahan ini membawa sejumlah konsekuensi bagi perekonomian, mulai dari meningkatnya beban impor termasuk impor energi, hingga tekanan inflasi yang berujung pada penurunan daya beli masyarakat. Rupiah yang melemah akan lebih cepat menekan biaya produksi karena harga barang impor otomatis lebih mahal dalam rupiah.
Risiko lainnya adalah tekanan pada APBN, karena nilai pembayaran cicilan pokok dan bunga utang luar negeri pemerintah akan membengkak dalam rupiah. Hal ini berpotensi memperlebar defisit anggaran melalui kenaikan beban subsidi dan kompensasi energi.
Dunia usaha juga waspada, karena dampak pelemahan rupiah sangat bergantung pada struktur bisnis masing-masing. Perusahaan manufaktur yang banyak mengandalkan bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi yang signifikan. Sementara itu, perusahaan dengan utang dalam dolar tanpa lindung nilai (hedging) menghadapi risiko yang lebih berat karena nilai cicilan dan pokok utang melonjak dalam rupiah.
Akhirnya, pelemahan rupiah akan terasa di level rumah tangga melalui kenaikan harga barang dan jasa. Ketika biaya impor dan biaya energi naik, harga kebutuhan pokok dan barang konsumsi pun ikut meningkat.