Rupiah Terpaku di Rp16.842, Ini Dampak Pertumbuhan PDB 5,51 Persen
Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,51 persen secara tahunan dan sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp23.821,1 triliun pada dasar harga berlaku dan Rp13.580,5 triliun pada dasar harga konstan. Namun, dampaknya masih dapat dirasakan dalam nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, rupiah melemah ke level Rp16.842 dengan turunna 65 poin atau 0,39 persen. Perubahan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal yang dianggap oleh pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi.
Salah satunya adalah potensi gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir. Selain itu, investor juga masih dibayangi kecemasan bahwa Presiden AS Donald Trump akan merealisasikan ancamannya menyerang Iran. Langkah tersebut berpotensi memicu konfrontasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah yang kaya minyak.
Namun, percakapan positif antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dapat mengurangi ketegangan antara Washington dan Beijing. Meskipun demikian, pasar masih menantikan kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih hawkish dan independen di bawah kepemimpinan Warsh.
Selain itu, sentimen pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai 5,51 persen secara kumulatif juga mempengaruhi gerak rupiah. Dari sisi domestik, nilai produk domestik bruto (PDB) Indonesia meningkat secara tahunan dan tercatat sebesar Rp23.821,1 triliun pada dasar harga berlaku dan Rp13.580,5 triliun pada dasar harga konstan.
Dalam konteks ini, rupiah terpaku di level Rp16.842 menjadi peringatan bagi investor untuk tetap berhati-hati dalam menilai dampak pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap nilai tukarnya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,51 persen secara tahunan dan sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp23.821,1 triliun pada dasar harga berlaku dan Rp13.580,5 triliun pada dasar harga konstan. Namun, dampaknya masih dapat dirasakan dalam nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, rupiah melemah ke level Rp16.842 dengan turunna 65 poin atau 0,39 persen. Perubahan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal yang dianggap oleh pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi.
Salah satunya adalah potensi gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir. Selain itu, investor juga masih dibayangi kecemasan bahwa Presiden AS Donald Trump akan merealisasikan ancamannya menyerang Iran. Langkah tersebut berpotensi memicu konfrontasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah yang kaya minyak.
Namun, percakapan positif antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dapat mengurangi ketegangan antara Washington dan Beijing. Meskipun demikian, pasar masih menantikan kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih hawkish dan independen di bawah kepemimpinan Warsh.
Selain itu, sentimen pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai 5,51 persen secara kumulatif juga mempengaruhi gerak rupiah. Dari sisi domestik, nilai produk domestik bruto (PDB) Indonesia meningkat secara tahunan dan tercatat sebesar Rp23.821,1 triliun pada dasar harga berlaku dan Rp13.580,5 triliun pada dasar harga konstan.
Dalam konteks ini, rupiah terpaku di level Rp16.842 menjadi peringatan bagi investor untuk tetap berhati-hati dalam menilai dampak pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap nilai tukarnya.