Rupiah Dibuka Lebih Menguat, Gelembung IHSG di Atas Perdagangan Rabu
Hari ini, Rupiah ditutup dengan harga yang sangat menguntungkan, Rp16.722 per dolar AS. Ini menunjukkan perubahan besar dalam nilai tukar Rupiah selama periode perdagangan hari ini. Kenaikan 46 poin atau 0,27 persen ini merupakan hasil dari berbagai faktor yang mempengaruhi pasar mata uang.
Saat ini, Indonesia menghadapi gejolak pasar saham domestik yang membuat indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir naik 8 persen. Namun, karena IHSG dihentikan sementara perdagangan, rupiah dapat bergerak lebih bebas.
Pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa penguatan Rupiah dipicu oleh pelemahan indeks dolar Amerika Serikat yang menurutnya seiring dengan penurunan ketegangan geopolitik dan kebijakan dagang AS. Pergerakan ini turut mendukung keputusan presiden AS Donald Trump untuk kembali menarik ancaman tarif terhadap Uni Eropa.
Tentu saja, ada pernyataan yang ditawarkan oleh Trump yang membuat pasar bersemangat. Dia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara telah membentuk kerangka kesepakatan terkait Greenland yang akan diumumkan nanti.
Meskipun ini menimbulkan harapan besar, namun ada pernyataan dari Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil yang menyebutkan agar tidak berlaku optimisme terlalu cepat dalam hal ini. Ia juga menekankan bahwa risiko kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa masih mempertahankan dirinya.
Jika kita melihat dari perspektif ekonomi, ada beberapa faktor yang mendukung Rupiah saat ini. Salah satunya adalah agenda data ekonomi Amerika Serikat seperti rilis Produk Domestik Bruto (PDB), klaim pengangguran awal, dan indikator inflasi pilihan bank sentral AS.
Selain itu, pernyataan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyatakan komitmennya untuk mengejar praktik under invoicing ekspor dan impor juga mendukung Rupiah saat ini. Praktik ilegal ini telah menjadi penyebab utama defisit anggaran negara selama beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini memberikan harapan besar kepada para investor dengan memprediksi bahwa Rupiah akan bergerak lebih kuat di rentang Rp16.860 hingga Rp16.900 per dolar AS pada perdagangan besok.
Hari ini, Rupiah ditutup dengan harga yang sangat menguntungkan, Rp16.722 per dolar AS. Ini menunjukkan perubahan besar dalam nilai tukar Rupiah selama periode perdagangan hari ini. Kenaikan 46 poin atau 0,27 persen ini merupakan hasil dari berbagai faktor yang mempengaruhi pasar mata uang.
Saat ini, Indonesia menghadapi gejolak pasar saham domestik yang membuat indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir naik 8 persen. Namun, karena IHSG dihentikan sementara perdagangan, rupiah dapat bergerak lebih bebas.
Pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa penguatan Rupiah dipicu oleh pelemahan indeks dolar Amerika Serikat yang menurutnya seiring dengan penurunan ketegangan geopolitik dan kebijakan dagang AS. Pergerakan ini turut mendukung keputusan presiden AS Donald Trump untuk kembali menarik ancaman tarif terhadap Uni Eropa.
Tentu saja, ada pernyataan yang ditawarkan oleh Trump yang membuat pasar bersemangat. Dia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara telah membentuk kerangka kesepakatan terkait Greenland yang akan diumumkan nanti.
Meskipun ini menimbulkan harapan besar, namun ada pernyataan dari Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil yang menyebutkan agar tidak berlaku optimisme terlalu cepat dalam hal ini. Ia juga menekankan bahwa risiko kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa masih mempertahankan dirinya.
Jika kita melihat dari perspektif ekonomi, ada beberapa faktor yang mendukung Rupiah saat ini. Salah satunya adalah agenda data ekonomi Amerika Serikat seperti rilis Produk Domestik Bruto (PDB), klaim pengangguran awal, dan indikator inflasi pilihan bank sentral AS.
Selain itu, pernyataan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyatakan komitmennya untuk mengejar praktik under invoicing ekspor dan impor juga mendukung Rupiah saat ini. Praktik ilegal ini telah menjadi penyebab utama defisit anggaran negara selama beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini memberikan harapan besar kepada para investor dengan memprediksi bahwa Rupiah akan bergerak lebih kuat di rentang Rp16.860 hingga Rp16.900 per dolar AS pada perdagangan besok.