Rupiah Melemah Sampai Rp16.956 Per Dolar AS, Terburuk Sejak 1998!
Kekhawatiran akan proyeksi fiskal domestik dan serangkaian faktor eksternal yang menguatkan dolar membuat rupiah terjun melemah ke level Rp16.956 per dolar AS, menjadi depresiasi terburuk sejak 1998.
Posisi rupiah pada penutupan hari ini merupakan dampak dari pelemahan hari sebelumnya yang mencapai 0,40 persen. Meski tidak sebesar pelemahan hari sebelumnya, tetapi perbedaannya masih cukup besar.
Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas menilai kejutannya ini terutama didorong oleh serangkaian faktor eksternal yang menguatkan dolar. Gejolak geopolitik dan kebijakan Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu utama.
Indeks dolar AS menguat di tengah ketegangan baru antara Washington dan Eropa, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mempertahankan tuntutannya atas Greenland dan mengancam memberlakukan tarif impor baru terhadap delapan negara Eropa.
Kekhawatiran akan perang dagang yang diperbarui meningkat setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai.
Sementara itu, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve AS (Fed) akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.
Pasar saat ini memperkirakan hanya 5 persen kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch.
Gempuran eksternal membuat rupiah melemah. Meskipun dua lembaga keuangan global terkemuka, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia secara simultan merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk dua tahun ke depan.
Dalam proyeksi terkininya, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1 persen, sedikit lebih tinggi dari estimasi untuk tahun 2025 yang diproyeksikan tumbuh 5 persen.
Revisi naik ini mencerminkan optimisme yang lebih besar, dengan angka untuk 2026 naik 0,2 persen poin dan untuk 2027 naik 0,1 persen poin dari ramalan Oktober 2025.
Kekhawatiran akan proyeksi fiskal domestik dan serangkaian faktor eksternal yang menguatkan dolar membuat rupiah terjun melemah ke level Rp16.956 per dolar AS, menjadi depresiasi terburuk sejak 1998.
Posisi rupiah pada penutupan hari ini merupakan dampak dari pelemahan hari sebelumnya yang mencapai 0,40 persen. Meski tidak sebesar pelemahan hari sebelumnya, tetapi perbedaannya masih cukup besar.
Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas menilai kejutannya ini terutama didorong oleh serangkaian faktor eksternal yang menguatkan dolar. Gejolak geopolitik dan kebijakan Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu utama.
Indeks dolar AS menguat di tengah ketegangan baru antara Washington dan Eropa, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mempertahankan tuntutannya atas Greenland dan mengancam memberlakukan tarif impor baru terhadap delapan negara Eropa.
Kekhawatiran akan perang dagang yang diperbarui meningkat setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai.
Sementara itu, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve AS (Fed) akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.
Pasar saat ini memperkirakan hanya 5 persen kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch.
Gempuran eksternal membuat rupiah melemah. Meskipun dua lembaga keuangan global terkemuka, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia secara simultan merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk dua tahun ke depan.
Dalam proyeksi terkininya, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1 persen, sedikit lebih tinggi dari estimasi untuk tahun 2025 yang diproyeksikan tumbuh 5 persen.
Revisi naik ini mencerminkan optimisme yang lebih besar, dengan angka untuk 2026 naik 0,2 persen poin dan untuk 2027 naik 0,1 persen poin dari ramalan Oktober 2025.