Rupiah terus mengalami pergerakan melemah, meleset di level Rp16.798 per dollar AS dalam perdagangan Senin ini. Pergerakan rupiah ini disebabkan oleh ketidakpastian global yang semakin meningkat, khususnya terkait dengan arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Pasar uang menguatkan kemungkinan pelemahan rupiah berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini disebabkan oleh perubahan kepemimpinan Federal Reserve, yang memprediksi penggantian Jerome Powell dengan Kevin Warsh sebagai ketua pengawas keuangan. Meski demikian, para ahli masih ragu-ragu terkait arah yang akan diambil oleh kebijakan moneter Amerika Serikat.
Kecenderungan rupiah melemah juga dipengaruhi oleh sentimen geopolitik yang semakin tenang. Penurunan kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan sinyal deeskalasi antara Amerika Serikat dan Iran telah memberikan dampak positif pada pasar.
Selain itu, pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyoroti manfaat pelemahan yen bagi eksportir juga menjadi perhatian pasar. Namun, sikap tersebut kemudian dilunakkan di tengah kekhawatiran pemerintah Jepang terhadap volatilitas mata uang yang berlebihan dan potensi intervensi.
Dalam latar belakang ini, fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif solid. Neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus 41,05 miliar dolar AS dalam periode Januari-Desember 2025, meningkat dibandingkan surplus tahun sebelumnya sebesar 31,04 miliar dolar AS.
Inflasi tahunan pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen secara year-on-year (yoy), meski secara bulanan mengalami deflasi 0,15 persen. Inflasi ini didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, khususnya tarif listrik.
Dalam perdagangan Selasa mendatang, rupiah diharapkan akan terus melemah dengan kecenderungan fluktuatif di kisaran Rp16.790 hingga Rp16.830 per dolar AS.
Pasar uang menguatkan kemungkinan pelemahan rupiah berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini disebabkan oleh perubahan kepemimpinan Federal Reserve, yang memprediksi penggantian Jerome Powell dengan Kevin Warsh sebagai ketua pengawas keuangan. Meski demikian, para ahli masih ragu-ragu terkait arah yang akan diambil oleh kebijakan moneter Amerika Serikat.
Kecenderungan rupiah melemah juga dipengaruhi oleh sentimen geopolitik yang semakin tenang. Penurunan kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan sinyal deeskalasi antara Amerika Serikat dan Iran telah memberikan dampak positif pada pasar.
Selain itu, pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyoroti manfaat pelemahan yen bagi eksportir juga menjadi perhatian pasar. Namun, sikap tersebut kemudian dilunakkan di tengah kekhawatiran pemerintah Jepang terhadap volatilitas mata uang yang berlebihan dan potensi intervensi.
Dalam latar belakang ini, fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif solid. Neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus 41,05 miliar dolar AS dalam periode Januari-Desember 2025, meningkat dibandingkan surplus tahun sebelumnya sebesar 31,04 miliar dolar AS.
Inflasi tahunan pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen secara year-on-year (yoy), meski secara bulanan mengalami deflasi 0,15 persen. Inflasi ini didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, khususnya tarif listrik.
Dalam perdagangan Selasa mendatang, rupiah diharapkan akan terus melemah dengan kecenderungan fluktuatif di kisaran Rp16.790 hingga Rp16.830 per dolar AS.