Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.798 per US$ di Awal Pekan
Kemarin (2/2/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup melemah ke level Rp16.798, beserta penurunan 12 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.786. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Ibrahim percaya perpecahan antara Amerika Serikat dan Iran kemudian menjadi faktor penarik bagi pasar. Meski demikian, Warsh kemungkinan akan menekankan kelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko yang lebih besar terhadap mandat Federal Reserve untuk mencapai lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga, sehingga masih membuka ruang bagi penurunan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.
Selain itu, pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyoroti manfaat pelemahan yen bagi eksportir juga menjadi perhatian pasar. Namun, sikap tersebut kemudian dilunakkan di tengah kekhawatiran pemerintah Jepang terhadap volatilitas mata uang yang berlebihan dan potensi intervensi.
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid. Surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencetak Rp41,05 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan surplus tahun sebelumnya sebesar Rp31,04 miliar dolar AS.
Kemarin (2/2/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup melemah ke level Rp16.798, beserta penurunan 12 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.786. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Ibrahim percaya perpecahan antara Amerika Serikat dan Iran kemudian menjadi faktor penarik bagi pasar. Meski demikian, Warsh kemungkinan akan menekankan kelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko yang lebih besar terhadap mandat Federal Reserve untuk mencapai lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga, sehingga masih membuka ruang bagi penurunan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.
Selain itu, pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyoroti manfaat pelemahan yen bagi eksportir juga menjadi perhatian pasar. Namun, sikap tersebut kemudian dilunakkan di tengah kekhawatiran pemerintah Jepang terhadap volatilitas mata uang yang berlebihan dan potensi intervensi.
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid. Surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencetak Rp41,05 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan surplus tahun sebelumnya sebesar Rp31,04 miliar dolar AS.