Tinjauan indeks pada Mei 2026 akan berdampak besar pada pasar saham Indonesia. Pengurangan angka 'free float' yang diusulkan oleh MSCI dapat menyebabkan arus modal keluar dari bursa sebesar Rp33,89 triliun atau $2 miliar AS. Hal ini terjadi karena investor asing hanya bisa membeli saham jika ada persentase tertentu dari total saham yang tersedia di pasar.
Risiko ini menjadi sangat berat bagi perusahaan-perusahaan besar seperti PT Petrindo Jaya Kreasi dan PT Barito Pacific, yang memiliki rata-rata 'free float' terkecil di Asia. Kekhawatiran investor juga akan memadati nilai rupiah dengan meningkatnya arus keluar dana asing dari pasar obligasi.
Hal ini menjadi perdebatan panjang berlangsung dalam industri keuangan Indonesia, karena banyak saham yang memiliki 'free float' di bawah 15 persen. Pengurangan angka ini hanya akan memperlebar ketimpangan tersebut, alih-alih mempersempitnya. Namun, MSCI menyatakan bahwa perubahan ini menawarkan transparansi tambahan yang dapat membantu mengatasi celah informasi.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia harus meningkatkan tata kelola agar bisa mendapatkan partisipasi internasional yang lebih besar dan arus investasi jangka panjang.
Risiko ini menjadi sangat berat bagi perusahaan-perusahaan besar seperti PT Petrindo Jaya Kreasi dan PT Barito Pacific, yang memiliki rata-rata 'free float' terkecil di Asia. Kekhawatiran investor juga akan memadati nilai rupiah dengan meningkatnya arus keluar dana asing dari pasar obligasi.
Hal ini menjadi perdebatan panjang berlangsung dalam industri keuangan Indonesia, karena banyak saham yang memiliki 'free float' di bawah 15 persen. Pengurangan angka ini hanya akan memperlebar ketimpangan tersebut, alih-alih mempersempitnya. Namun, MSCI menyatakan bahwa perubahan ini menawarkan transparansi tambahan yang dapat membantu mengatasi celah informasi.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia harus meningkatkan tata kelola agar bisa mendapatkan partisipasi internasional yang lebih besar dan arus investasi jangka panjang.