Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih mengkaji secara mendalam rencana pembentukan BUMN di sektor tekstil. Ia menegaskan bahwa setiap rencana investasi yang dilakukan harus melalui studi kelayakan (feasibility study) dan asesmen menyeluruh, termasuk terhadap sektor tekstil yang saat ini tengah menjadi perhatian pemerintah.
Menurut Rosan, jika investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, maka pihaknya sangat terbuka menerima investasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih rendah dari parameter yang ditetapkan. Ia mencontohkan sektor tekstil sebagai salah satu industri dengan daya serap tenaga kerja yang tinggi, sehingga memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Rosan juga menegaskan bahwa pemerintah akan membentuk BUMN baru khusus sektor tekstil, dengan pendanaan 6 miliar (dolar AS) yang disiapkan oleh Danantara. Ia menyebutkan bahwa industri tekstil dan garmen dinilai menjadi garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif AS.
"Kita melihat potensi-potensi yang ada saja, apalagi kalau itu sudah termasuk dalam distressed asset," ujar Rosan. Ia juga menegaskan bahwa Danantara akan melihat peluang yang ada terutama terhadap perusahaan-perusahaan yang telah masuk dalam kategori aset bermasalah (distressed asset).
Namun, masih belum diketahui kepastian pembentukan BUMN tekstil baru, karena pihaknya masih membuka berbagai opsi dan belum mengambil keputusan final.
Menurut Rosan, jika investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, maka pihaknya sangat terbuka menerima investasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih rendah dari parameter yang ditetapkan. Ia mencontohkan sektor tekstil sebagai salah satu industri dengan daya serap tenaga kerja yang tinggi, sehingga memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Rosan juga menegaskan bahwa pemerintah akan membentuk BUMN baru khusus sektor tekstil, dengan pendanaan 6 miliar (dolar AS) yang disiapkan oleh Danantara. Ia menyebutkan bahwa industri tekstil dan garmen dinilai menjadi garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif AS.
"Kita melihat potensi-potensi yang ada saja, apalagi kalau itu sudah termasuk dalam distressed asset," ujar Rosan. Ia juga menegaskan bahwa Danantara akan melihat peluang yang ada terutama terhadap perusahaan-perusahaan yang telah masuk dalam kategori aset bermasalah (distressed asset).
Namun, masih belum diketahui kepastian pembentukan BUMN tekstil baru, karena pihaknya masih membuka berbagai opsi dan belum mengambil keputusan final.