Risiko Resesi RI Rendah, Ini Penjelasan Menteri Airlangga
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) telah menetapkan bahwa peluang resesi ekonomi Indonesia jauh lebih rendah dibanding Amerika Serikat (AS), China, dan Jepang. Hal ini didasarkan pada penilaian dari Bloomberg, yang memprediksi resesi ekonomi di Indonesia dengan probabilitas rendah.
Menurut Menteri Airlangga Hartarto, perekonomian Indonesia memiliki resiliensi yang kuat dalam menghadapi ketidakpastian global. Ia menyatakan bahwa pembangunan ekonomi nasional Indonesia tetap stabil meskipun ada faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pasar di luar negeri.
Dalam tujuh tahun terakhir, Indonesia telah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi tetap terjaga dengan inflasi Desember 2025 berada pada level 2,92%.
Kinerja pasar keuangan juga menunjukkan tren positif, yaitu indeks saham yang mencetak rekor, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta aktivitas sektor riil yang tetap ekspansif. Selain itu, posisi eksternal Indonesia tetap solid dengan surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa yang mencapai US$ 156,1 miliar.
Pertumbuhan kredit perbankan juga terjaga mendekati 8%, serta realisasi penanaman modal asing (FDI) menunjukkan tren peningkatan. Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Menurut Menteri Airlangga, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen kebijakan yang kredibel dan bertanggung jawab. Ia juga menegaskan bahwa defisit APBN 2025 dijaga di bawah 3%, dengan rasio utang yang tetap terkendali.
Pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 dengan nilai total Rp110,7 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) telah menetapkan bahwa peluang resesi ekonomi Indonesia jauh lebih rendah dibanding Amerika Serikat (AS), China, dan Jepang. Hal ini didasarkan pada penilaian dari Bloomberg, yang memprediksi resesi ekonomi di Indonesia dengan probabilitas rendah.
Menurut Menteri Airlangga Hartarto, perekonomian Indonesia memiliki resiliensi yang kuat dalam menghadapi ketidakpastian global. Ia menyatakan bahwa pembangunan ekonomi nasional Indonesia tetap stabil meskipun ada faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pasar di luar negeri.
Dalam tujuh tahun terakhir, Indonesia telah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi tetap terjaga dengan inflasi Desember 2025 berada pada level 2,92%.
Kinerja pasar keuangan juga menunjukkan tren positif, yaitu indeks saham yang mencetak rekor, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta aktivitas sektor riil yang tetap ekspansif. Selain itu, posisi eksternal Indonesia tetap solid dengan surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa yang mencapai US$ 156,1 miliar.
Pertumbuhan kredit perbankan juga terjaga mendekati 8%, serta realisasi penanaman modal asing (FDI) menunjukkan tren peningkatan. Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Menurut Menteri Airlangga, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen kebijakan yang kredibel dan bertanggung jawab. Ia juga menegaskan bahwa defisit APBN 2025 dijaga di bawah 3%, dengan rasio utang yang tetap terkendali.
Pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 dengan nilai total Rp110,7 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.