Hikayat Si Miskin merupakan salah satu sastra rakyat yang berasal dari Pulau Sumatra. Kisah ini berasal dari daerah Lematang, Muara Enim, Sumatra Selatan. Hikayat tersebut merupakan bagian dari warisan sastra Indonesia yang bisa menjadi bahan belajar siswa tentang budaya lokal dan literatur kerakyatan.
Dengan membuat resensi sinopsis hikayat si miskin, siswa dapat mengembangkan keterampilan analitis, kritik, dan pemahaman. Siswa akan terbiasa menganalisis elemen-elemen cerita seperti plot, karakter, nilai-nilai moral, amanat, dan konflik.
Ringkasan hikayat si miskin bermula dari cerita kehidupan di sebuah kerajaan antah berantah yang dipimpin Maharaja Indra Dewa. Pada zaman dahulu kala, hiduplah Raja Keindraan beserta istrinya yang jatuh miskin, melarat, dan terlunta-lunta karena terkena kutukan dari Batara Indra.
Untuk bertahan hidup, suami-istri itu terpaksa mengonsumsi makanan sisa dari tempat sampah di suatu kampung yang kejam setiap hari. Penduduk setempat juga kerap menghina, memukul, dan tidak sudi membiarkannya tinggal di kampung itu.
Suatu hari, sang istri memasuki masa kehamilan. Ketika usia hamil telah menginjak tiga bulan, ia mengidam buah mempelam dan nangka yang tumbuh di suatu halaman istana raja serta lokasinya jauh.
Maharaja Indra Dewa sangat bermurah hati lantaran sudi memberikan buah yang diminta. Rakyat di kerajaan tersebut juga memberikan bantuan berupa makanan, pakaian, beras, dan perkakas lain.
Setelah beberapa bulan, istri si Miskin melahirkan seorang putra yang sangat elok. Anak itu diberi nama Markamah yang memiliki makna utama sebagai "anak dalam kesukaran".
Bersamaan dengan kelahiran anaknya, mereka mulai mencari tempat yang cocok untuk menetap. Oleh karena itu, sang suami menggali tanah di suatu area demi membangun rumah.
Saat menggali tanah untuk memancangkan tiang atap, si Miskin menemukan segepok emas yang terpendam. Mereka pun memanfaatkan emas tersebut untuk memperbaiki derajat kehidupannya.
Dengan berkat Allah, mereka membangun kerajaan mereka sendiri dengan nama Puspa Sari. Si Miskin pun menjadi raja yang arif dan perkasa dengan nama Maharaja Indra Angkasa, sementara istrinya bernama Ratna Dewi.
Kerajaan itu semakin terkenal, tetapi Maharaja Indra Angkasa dari Antah Berantah merasa iri. Pada saat itu, ada kabar bahwa Maharaja Indra Angkasa mencari ahli nujum untuk mengetahui keberuntungan kedua anaknya kelak, yakni Markamah dan tuan putri Nila Kesuma.
Maharaja Indra Dewa memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia mengumpulkan sekaligus menghasut semua ahli nujum supaya mengatakan kepada Indra Angkasa bahwa Markamah dan Nila Kesuma akan mendatangkan malapetaka terhadap kerajaan Puspa Sari.
Semua ahli nujum menyetujui perintah Maharaja Indra Dewa untuk memfitnah kedua anak Maharaja Indra Angkasa. Oleh sebab itu, para ahli nujum segera menyampaikan kabar bohong tersebut.
Setelah mendengar kata-kata dari ahli nujum, Maharaja Indra Angkasa yang merasa murka memutuskan untuk membuang kedua anaknya. Mereka pun pergi tanpa tujuan yang pasti.
Setelah kepergian kedua anaknya, Kerajaan Puspa Sari terbakar dan rakyatnya terpecah belah. Si Miskin dan sang istri baru menyadari bahwa mereka telah menjadi korban fitnah para ahli nujum sehingga menyebabkan kehancuran kerajaannya.
Berdasarkan ringkasan cerita Hikayat Si Miskin di atas, beberapa nama tokoh yang terlibat adalah si Miskin (suami), istri si Miskin (Ratna Dewi saat mendampingi tokoh utama), Maharaja Indra Dewa, Maharaja Markamah (anak dari si Miskin) dan Nila Kesuma (anak dari si Miskin).
Kesimpulan dari cerita Hikayat Si Miskin berkaitan dengan pesan moral yang kuat tentang pentingnya bersikap sabar, tekun, dan rendah hati dalam menghadapi kesulitan hidup. Nilai-nilai moral ini masih relevan hingga zaman sekarang, terutama untuk anak-anak.
Adapun amanat cerita Hikayat Si Miskin mengajarkan tentang pentingnya bersyukur dan tidak tamak, menghormati orang tua, serta tolong-menolong terhadap sesama.
Dengan membuat resensi sinopsis hikayat si miskin, siswa dapat mengembangkan keterampilan analitis, kritik, dan pemahaman. Siswa akan terbiasa menganalisis elemen-elemen cerita seperti plot, karakter, nilai-nilai moral, amanat, dan konflik.
Ringkasan hikayat si miskin bermula dari cerita kehidupan di sebuah kerajaan antah berantah yang dipimpin Maharaja Indra Dewa. Pada zaman dahulu kala, hiduplah Raja Keindraan beserta istrinya yang jatuh miskin, melarat, dan terlunta-lunta karena terkena kutukan dari Batara Indra.
Untuk bertahan hidup, suami-istri itu terpaksa mengonsumsi makanan sisa dari tempat sampah di suatu kampung yang kejam setiap hari. Penduduk setempat juga kerap menghina, memukul, dan tidak sudi membiarkannya tinggal di kampung itu.
Suatu hari, sang istri memasuki masa kehamilan. Ketika usia hamil telah menginjak tiga bulan, ia mengidam buah mempelam dan nangka yang tumbuh di suatu halaman istana raja serta lokasinya jauh.
Maharaja Indra Dewa sangat bermurah hati lantaran sudi memberikan buah yang diminta. Rakyat di kerajaan tersebut juga memberikan bantuan berupa makanan, pakaian, beras, dan perkakas lain.
Setelah beberapa bulan, istri si Miskin melahirkan seorang putra yang sangat elok. Anak itu diberi nama Markamah yang memiliki makna utama sebagai "anak dalam kesukaran".
Bersamaan dengan kelahiran anaknya, mereka mulai mencari tempat yang cocok untuk menetap. Oleh karena itu, sang suami menggali tanah di suatu area demi membangun rumah.
Saat menggali tanah untuk memancangkan tiang atap, si Miskin menemukan segepok emas yang terpendam. Mereka pun memanfaatkan emas tersebut untuk memperbaiki derajat kehidupannya.
Dengan berkat Allah, mereka membangun kerajaan mereka sendiri dengan nama Puspa Sari. Si Miskin pun menjadi raja yang arif dan perkasa dengan nama Maharaja Indra Angkasa, sementara istrinya bernama Ratna Dewi.
Kerajaan itu semakin terkenal, tetapi Maharaja Indra Angkasa dari Antah Berantah merasa iri. Pada saat itu, ada kabar bahwa Maharaja Indra Angkasa mencari ahli nujum untuk mengetahui keberuntungan kedua anaknya kelak, yakni Markamah dan tuan putri Nila Kesuma.
Maharaja Indra Dewa memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia mengumpulkan sekaligus menghasut semua ahli nujum supaya mengatakan kepada Indra Angkasa bahwa Markamah dan Nila Kesuma akan mendatangkan malapetaka terhadap kerajaan Puspa Sari.
Semua ahli nujum menyetujui perintah Maharaja Indra Dewa untuk memfitnah kedua anak Maharaja Indra Angkasa. Oleh sebab itu, para ahli nujum segera menyampaikan kabar bohong tersebut.
Setelah mendengar kata-kata dari ahli nujum, Maharaja Indra Angkasa yang merasa murka memutuskan untuk membuang kedua anaknya. Mereka pun pergi tanpa tujuan yang pasti.
Setelah kepergian kedua anaknya, Kerajaan Puspa Sari terbakar dan rakyatnya terpecah belah. Si Miskin dan sang istri baru menyadari bahwa mereka telah menjadi korban fitnah para ahli nujum sehingga menyebabkan kehancuran kerajaannya.
Berdasarkan ringkasan cerita Hikayat Si Miskin di atas, beberapa nama tokoh yang terlibat adalah si Miskin (suami), istri si Miskin (Ratna Dewi saat mendampingi tokoh utama), Maharaja Indra Dewa, Maharaja Markamah (anak dari si Miskin) dan Nila Kesuma (anak dari si Miskin).
Kesimpulan dari cerita Hikayat Si Miskin berkaitan dengan pesan moral yang kuat tentang pentingnya bersikap sabar, tekun, dan rendah hati dalam menghadapi kesulitan hidup. Nilai-nilai moral ini masih relevan hingga zaman sekarang, terutama untuk anak-anak.
Adapun amanat cerita Hikayat Si Miskin mengajarkan tentang pentingnya bersyukur dan tidak tamak, menghormati orang tua, serta tolong-menolong terhadap sesama.