Pekan depan, delegasi Indonesia dan Amerika Serikat akan menandatangani dokumen final kesepakatan tarif resiprokal (Agreement on Reciprocal Tariff/ART), yang merupakan hasil dari proses negosiasi yang dilakukan oleh Kementerian Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto. Meski telah diberikan akses mineral kritis, seperti tembaga, kepada PT Freeport Indonesia sejak 1967, keberadaan ini masih dianggap sebagai "poin" penting dalam perdebatan dokumen ART.
Menurut Airlangga, delegasi RI sudah bertolak ke Amerika Serikat untuk merampungkan pembahasan dokumen ART, dan telah menyampaikan pemberian akses mineral kritis kepada Gedung Putih. "Ya, kan akses ke mineral kritis sudah kita berikan, dan yang paling krusial copper karena tidak ada elektrik [dan] pesawat angkasa tanpa copper," ungkapnya.
Namun, hasil dari negosiasi ini masih belum dapat terlihat di pekan depan. Setelah proses legal scrubbing rampung, tim negosiasi bersama Kedutaan Besar Indonesia untuk AS dapat mengatur jadwal kapan Presiden Prabowo Subianto dapat terbang ke Negeri Paman Sam untuk menandatangani dokumen ART bersama Presiden Donald Trump.
Penyelesaian proses legal drafting masih dalam tahap pertemuan, dan diharapkan selesai pada minggu kedua Januari 2026. Tim teknis Indonesia dan Amerika Serikat akan melanjutkan kembali pertemuan teknis untuk legal drafting, serta "clean up" dokumen yang terkait, ditargetkan selesai dalam satu minggu.
Delegasi RI dan AS sudah menyepakati seluruh isu substansi yang telah diatur dalam dokumen ART. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat sudah mendapat kesepakatan tentang tarif resiprokal, yang diharapkan dapat mempercepat proses kesepakatan dagang antara kedua negara.
Menurut Airlangga, delegasi RI sudah bertolak ke Amerika Serikat untuk merampungkan pembahasan dokumen ART, dan telah menyampaikan pemberian akses mineral kritis kepada Gedung Putih. "Ya, kan akses ke mineral kritis sudah kita berikan, dan yang paling krusial copper karena tidak ada elektrik [dan] pesawat angkasa tanpa copper," ungkapnya.
Namun, hasil dari negosiasi ini masih belum dapat terlihat di pekan depan. Setelah proses legal scrubbing rampung, tim negosiasi bersama Kedutaan Besar Indonesia untuk AS dapat mengatur jadwal kapan Presiden Prabowo Subianto dapat terbang ke Negeri Paman Sam untuk menandatangani dokumen ART bersama Presiden Donald Trump.
Penyelesaian proses legal drafting masih dalam tahap pertemuan, dan diharapkan selesai pada minggu kedua Januari 2026. Tim teknis Indonesia dan Amerika Serikat akan melanjutkan kembali pertemuan teknis untuk legal drafting, serta "clean up" dokumen yang terkait, ditargetkan selesai dalam satu minggu.
Delegasi RI dan AS sudah menyepakati seluruh isu substansi yang telah diatur dalam dokumen ART. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat sudah mendapat kesepakatan tentang tarif resiprokal, yang diharapkan dapat mempercepat proses kesepakatan dagang antara kedua negara.