Ternyata, Singapura memiliki rahasia untuk mendorong kembali bursa saham lokal melalui paket stimulus yang diluncurkan oleh Otoritas Keuangan Singapura (MAS). Jumlah dana yang disuntikkan mencapai Rp 65,75 triliun, yang merupakan total senilai S$ 5 miliar. Dengan demikian, pemerintah Singapura berharap kebijakan ini dapat memperkuat momentum pemulihan pasar saham Singapura dan mengatasi masalah likuiditas yang membuat bursa negara tersebut tertinggal dibandingkan rekan-rekannya di kawasan Asia.
Program stimulus ini memiliki target spesifik untuk mengatasi ketimpangan kinerja antar sektor di pasar saham Singapura. Tahun 2025, indeks acuan Straits Times Index (STI) mencatat kenaikan impresif sebesar 22,71%, kinerja tahunan terbaik dalam 16 tahun terakhir. Namun, reli tersebut mayoritas didorong oleh saham berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan. Di sisi lain, saham berkapitalisasi kecil dan menengah justru tertinggal dan mengalami tekanan likuiditas.
Dengan demikian, pemerintah Singapura telah mendekati keberhasilan reformasi pasar modal yang telah dilakukan oleh Jepang, Korea Selatan, dan India. Pemerintah setempat menyadari bahwa tanpa intervensi struktural, Bursa Singapura berisiko kehilangan daya saing global.
Namun, masih ada beberapa sisi yang perlu diperhatikan dalam upaya ini. Dalam survei terhadap 60 manajer investasi global, hanya 7% responden yang yakin indeks STI akan naik lebih dari 10% tahun ini. Mayoritas responden justru memprediksi kenaikan moderat di kisaran 5-10% hingga akhir 2026.
Dalam hal ini, masih perlu adanya inisiatif lanjutan untuk menjaga momentum ini dan meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham secara berkelanjutan. Selain itu, juga perlu diperhatikan bahwa kondisi pasar di Indonesia sedang berbeda dengan Singapura. Pasar saham domestik justru didorong oleh lonjakan saham small-mid caps yang berlomba meniru strategi ekspansi Prajogo Pangestu pasca-Covid.
Dalam hal ini, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk mendesak dilakukan langkah-langkah untuk meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham secara berkelanjutan dan mencegah ketidakstabilan akibat overleverage yang dapat membuat pasar rawan guncangan.
Program stimulus ini memiliki target spesifik untuk mengatasi ketimpangan kinerja antar sektor di pasar saham Singapura. Tahun 2025, indeks acuan Straits Times Index (STI) mencatat kenaikan impresif sebesar 22,71%, kinerja tahunan terbaik dalam 16 tahun terakhir. Namun, reli tersebut mayoritas didorong oleh saham berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan. Di sisi lain, saham berkapitalisasi kecil dan menengah justru tertinggal dan mengalami tekanan likuiditas.
Dengan demikian, pemerintah Singapura telah mendekati keberhasilan reformasi pasar modal yang telah dilakukan oleh Jepang, Korea Selatan, dan India. Pemerintah setempat menyadari bahwa tanpa intervensi struktural, Bursa Singapura berisiko kehilangan daya saing global.
Namun, masih ada beberapa sisi yang perlu diperhatikan dalam upaya ini. Dalam survei terhadap 60 manajer investasi global, hanya 7% responden yang yakin indeks STI akan naik lebih dari 10% tahun ini. Mayoritas responden justru memprediksi kenaikan moderat di kisaran 5-10% hingga akhir 2026.
Dalam hal ini, masih perlu adanya inisiatif lanjutan untuk menjaga momentum ini dan meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham secara berkelanjutan. Selain itu, juga perlu diperhatikan bahwa kondisi pasar di Indonesia sedang berbeda dengan Singapura. Pasar saham domestik justru didorong oleh lonjakan saham small-mid caps yang berlomba meniru strategi ekspansi Prajogo Pangestu pasca-Covid.
Dalam hal ini, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk mendesak dilakukan langkah-langkah untuk meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham secara berkelanjutan dan mencegah ketidakstabilan akibat overleverage yang dapat membuat pasar rawan guncangan.