Tether, perusahaan penerbit stablecoin terbesar di dunia, kini telah menjadi salah satu pemegang utang Amerika Serikat (AS) dan komoditas emas yang berpengaruh. Menurut laporan terkini, Tether memiliki cadangan emas sekitar 80-116 metrik ton, menjadikannya pemegang emas terbesar di dunia dari sektor swasta.
Tether juga menjadi salah satu pembeli utama surat utang AS, dengan kepemilikan langsung senilai lebih dari US$ 122 miliar. Jika termasuk instrumen overnight reverse repurchase agreements, total eksposur Tether terhadap utang pemerintah AS menembus angka US$ 141 miliar.
Ekspansi aset ini didorong oleh pertumbuhan sirkulasi USDT yang eksplosif. Sepanjang tahun 2025, Tether menerbitkan token baru senilai hampir US$ 50 miliar, yang mendorong total sirkulasi USDT melampaui US$ 186 miliar.
Tether memiliki model bisnis yang sederhana namun efektif. Dolar AS yang disetorkan pengguna untuk mencetak USDT diinvestasikan kembali ke instrumen likuid seperti surat utang AS jangka pendek, memberikan imbal hasil (yield) bagi Tether.
Namun, besar porsi kepemilikan surat utang AS oleh penerbit stablecoin memancing perhatian regulator. Riset dari Federal Reserve Bank of Kansas City memperingatkan bahwa fenomena ini berpotensi memindahkan dana dari sistem deposito perbankan konvensional.
Meski demikian, regulasi baru di AS seperti GENIUS Act mulai memformalkan peran Tether sebagai salah satu penyandang dana bagi sistem keuangan AS. Pergeseran fundamental dalam sistem pembayaran global juga terlihat, dengan volume transfer stablecoin mencapai triliunan dolar per kuartal dan nilai transaksi stablecoin melampaui raksasa pembayaran konvensional.
Tren yang terbentuk secara konsisten ini menegaskan posisi stablecoin sebagai tulang punggung likuiditas baru dalam ekosistem keuangan digital, menantang hegemoni sistem pembayaran tradisional.
Tether juga menjadi salah satu pembeli utama surat utang AS, dengan kepemilikan langsung senilai lebih dari US$ 122 miliar. Jika termasuk instrumen overnight reverse repurchase agreements, total eksposur Tether terhadap utang pemerintah AS menembus angka US$ 141 miliar.
Ekspansi aset ini didorong oleh pertumbuhan sirkulasi USDT yang eksplosif. Sepanjang tahun 2025, Tether menerbitkan token baru senilai hampir US$ 50 miliar, yang mendorong total sirkulasi USDT melampaui US$ 186 miliar.
Tether memiliki model bisnis yang sederhana namun efektif. Dolar AS yang disetorkan pengguna untuk mencetak USDT diinvestasikan kembali ke instrumen likuid seperti surat utang AS jangka pendek, memberikan imbal hasil (yield) bagi Tether.
Namun, besar porsi kepemilikan surat utang AS oleh penerbit stablecoin memancing perhatian regulator. Riset dari Federal Reserve Bank of Kansas City memperingatkan bahwa fenomena ini berpotensi memindahkan dana dari sistem deposito perbankan konvensional.
Meski demikian, regulasi baru di AS seperti GENIUS Act mulai memformalkan peran Tether sebagai salah satu penyandang dana bagi sistem keuangan AS. Pergeseran fundamental dalam sistem pembayaran global juga terlihat, dengan volume transfer stablecoin mencapai triliunan dolar per kuartal dan nilai transaksi stablecoin melampaui raksasa pembayaran konvensional.
Tren yang terbentuk secara konsisten ini menegaskan posisi stablecoin sebagai tulang punggung likuiditas baru dalam ekosistem keuangan digital, menantang hegemoni sistem pembayaran tradisional.