Purbaya Tegaskan Terpilihnya Thomas Tak Ganggu Independensi BI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengutuk kesalahpahaman terhadap pemasukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang dianggap akan mengganggu independensi bank sentral. Menurutnya, apa yang dilakukan otoritas fiskal dan moneter saat ini tetap berdasarkan pada praktik-praktik terbaik global serta berlaku di negara-negara maju.

"Dengan demikian kami menjalankan kebijakan moneter dan fiskal secara terpisah. Ini masih satu negara, kami tidak ingin ada negara dalam negara," ucapnya saat menjadi pembicara dalam Indonesia Economi Summit di Jakarta Pusat.

Bisnis Tempo juga menyebutkan bahwa Purbaya menekankan kompetensi sebagai penilaian utama seseorang di jabatan pemerintahan alih-alih hubungan kekerabatan. Selain itu, koordinasi antara fiskal dan moneter dilakukan melalui jalur koordinasi resmi tanpa saling memengaruhi.

Sementara itu, Thomas Djiwandono terpilih sebagai Deputi Gubernur BI yang dianggap akan mengganggu independensi bank sentral. Banyak orang berpendapat bahwa pemasukan Thomas tersebut akan menimbulkan konflik kepentingan antara fiskal dan moneter.
 
Maksudnya sih, kalau kita bandingin dengan masa lalu, ketika Soeharto masih menguasai, kita punya BI yang independen banget, tapi sekarang terus ada koordinasi yang erat antara fiskal dan moneter? Sama-sama, kayak gitu. Aku penasaran sih bagaimana Thomas Djiwandono bisa bersaing bareng Soehartopenggawa yang tidak pernah ada di BI... atau mungkin itu semua berlaku di negara maju aja, kalau aku tidak salah, sistem moneter dan fiskal di negara lain berbeda banget dari kita...
 
Gue pikir kalo birokrasi makin panas kayak olahraga bulu tangkis, siapa yang salah siapa yang kalah, klo udah ada protokol di dalamnya kayak gitu aja πŸ€¦β€β™‚οΈ. Menteri Purbaya bilang birokrasi global standard, tapi gue masih pikir kalo kita Indonesia harus jadi contoh sendiri, kalo tidak apa-apa lagi biar kita bisa maju ya πŸ’ͺ. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan, anggaran moneter BI pada tahun 2024 sudah mencapai Rp 5.300 triliun, kayaknya bukan main πŸ€‘.
 
πŸ€¦β€β™‚οΈ πŸ“ˆ biar gini kaya BI, fiskal dan moneter kayak broongan sihir πŸ§™β€β™‚οΈ! πŸ˜‚ yang penting kok tidak ada konflik kepentingan, tapi biar sih bisa buat apa? πŸ€” pilihan pribadi deh, siapa tau Thomas mau bikin BI lebih kaya πŸ‘
 
Gue pikir Purbaya benar sekali, kesalahpahaman di BI gak boleh terjadi, kita harus fokus pada kebijakan yang baik buat negara. Tapi, apa artinya Thomas Djiwandono dipilih di sana? Gue rasa koordinasi antara fiskal dan moneter udh jelas, jadi kenapa perlu pemasukan baru? Hmm, mungkin harus dilihat dari pendapat masyarakat, apakah banyak yang suka dan tidak suka dengan Thomas Djiwandono. Saya harap Thomas bisa menjelaskan apa yang diharapkan oleh semua orang πŸ€”πŸ’‘
 
Gue pikir Menteri Keuangan itu sedang nggak bisa teka-teki apa kebenarannya. Koordinasi antara fiskal dan moneter di BI itu apa? Gue lihat banyak orang yang ngerasa tidak puas, tapi gue masih tidak paham bagaimana caranya keduanya bekerja sama tanpa terganggu. Apa sih praktik-praktik terbaik global itu? Gue butuh baca buku atau ngobrol dengan ahli fiskal dan moneter untuk paham.
 
Gue pikir Menteri Keuangan itu kayak gue bayangkan jaringan energi dan listrik di Indonesia πŸŒπŸ”‹. Ada dua pihak, fiskal dan moneter, yang harus bekerja sama untuk mengatur ekonomi kita 🀝. Jadi, jika Thomas Djiwandono diangkat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, itu kayaknya akan menimbulkan konflik πŸ—‘οΈ antara keduanya.

Gue rasa koordinasi antar pihak itu penting banget! πŸ“ˆ Jika kita bisa bekerja sama dengan baik, maka ekonomi kita bisa berkembang dengan baik 🌱. Tapi, kalau ada kesalahpahaman, maka hasilnya bisa berantai 😬.

Gue pikir Menteri Keuangan itu benar-benar menekankan pentingnya kompetensi dan koordinasi yang baik dalam mengatur ekonomi kita πŸ€“. Jadi, kita harus selalu waspada dan siap untuk menangani konflik kepentingan yang mungkin terjadi πŸ’‘.

Gue harap Thomas Djiwandono bisa bekerja sama dengan baik dengan tim Bank Indonesia untuk meningkatkan kemajuan ekonomi kita πŸš€!
 
BI udah jadi seperti keluarga yang tidak bisa diprediksi, kalo siapapun masuk, pasti ada sisi lain yang berbeda 🀯. Saya rasa apa yang penting adalah koordinasi yang baik antara fiskal dan moneter, jangan biarkan kompetisi suara berisiko menimbulkan konflik kepentingan πŸ”‡.
 
gak ngerti kenapa harus terus2 dibicarakan adegan yang udah lama banget ini πŸ€”. orang-orangnya selalu fokus pada satu hal, tapi apa sih yang salahnya? ya udah punya Deputi Gubernur, apa yang dibutuhkan lagi? πŸ˜’ kalau suka nyebutin tentang kompetensi, kok bisa buat debat yang lebih seru 🀣. tapi sementara ini, aku pikir ada yang salah juga, seperti kenapa kita harus terus2 membandingin diri dengan negara-negara maju? apakah kita udah benar-benar tidak memiliki kebijakan moneter dan fiskal sendiri? πŸ€·β€β™‚οΈ. toh aku punya opini, apa salahnya kita mulai mencoba hal-hal baru? 😐.
 
Pikir saya kalau pentingnya kompetensi di jabatan yang penting seperti itu. Jangan harus banyak hubungan kekerabatan, asal bisa laku kerja kapan pun ya 😊. Saya senang melihat pemerintah fokus pada hal ini. Tapi, apa salahnya kita coba tahu lebih dulu apa benar-benar apa yang dibutuhkan oleh BI sebelum membuat keputusan seperti itu? πŸ€”
 
Gue pikir apa yang terjadi disitu kalau birokrasi di BI masih banyak macet.. jadi ada yang kena masukin dulu koordinasi jalur resmi.. tapi siapa tahu ada yang bisa mengatur sistem yang lebih efisien.. mungkin ini bukan tentang konflik kepentingan, tapi tentang bagaimana kerja sama yang lebih baik.. gue ingat ada yang bilang sebelumnya kalau fiskal dan moneter harus dikoordinasikan lepas dari hubungan kekerabatan.. jadi apa yang salah dengan itu? πŸ€”
 
Aku ngomong-ngomong dengar news ini, padahal aku pikir apa yang penting adalah bagaimana kita bisa menjadikan Bank Indonesia menjadi semakin independen, tapi juga tidak terlalu jauh dari pemerintahan. Aku rasa ada sesuatu yang salah ketika kita memikirkan bahwa kepentingan fiskal dan moneter harus tetap berbeda-beda, padahal sebenarnya mereka adalah bagian dari satu kesatuan. Aku ingat cerita tentang sebuah perusahaan yang dijalankan oleh dua orang yang memiliki visi dan misi yang sama, tapi karena tidak bisa saling memahami, akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Sementara itu, Thomas Djiwandono terpilih karena apa, aku tidak tahu. Tapi aku rasa apa yang penting adalah bagaimana kita bisa menemukan orang-orang yang memiliki kompetensi dan visi yang sama dalam menjalankan Bank Indonesia. πŸ€”
 
kembali
Top